December 31, 2017 — 469 views

Melampaui Cahaya: Firasat yang Samar (EXTRA)

-Catatan: Ini adalah sebuah tulisan yang murni interpretasi dari seorang fans (fans theory), dengan subjektifitas dan batasan-batasan yang tidak logis – Soyo

Berbeda dengan bagian sebelumnya, kali ini, izinkan saya (Soyo) “berbicara” sendirian dalam tulisan ini. Saya akan menuangkan seluruh pemikiran yang saya punya, apa yang telah saya mengerti, dan apa yang saya ekspektasikan selama 4 tahun menjadi fans Love Live! (saya tidak tahu apakah harus menyebut saya seorang Lovelivers). Dan, mohon maaf atas tata bahasa yang kurang baik. Saya bukan tipe orang yang suka mengikuti aturan formal.

Tulisan ini akan mencangkup hingga episode ke 7 dari anime Love Live! Sunshine! musim kedua.

School Idol

Kita akan memulai dari hal yang paling awal, hal yang paling mendasar.
Apa itu Love Live?
Apa itu School Idol Project?
Ya, ini adalah salah satu produk dari ekonomi liberal dimana 9 gadis berpasangan dengan karakter 2D masing-masing, terbentuk dan dijual ke pasar dälam bungkus “School Idol”. Tetapi, saya tidak akan membahas hal ini lebih dalam (karena saya tidak mahir dalam hal ini), sebagai gantinya, mari bicara dalam bahasa yang dimengerti oleh para “Fans”.

Seishun. atau, masa muda.
Dalam sebuah interview dengan pembuat Love Live (maaf saya lupa dengan asal sumbernya) namun itu adalah, benar-benar esensi dari Love Live! Itu sendiri. Waktu dari masa hidup seseorang dimana mereka baru saja beranjak dewasa dan segera akan menjadi bagian besar dari komunitas modern.

Mengapa hal tersebut spesial?

Merunjuk dari kultur masyarakat Jepang sendiri, masa muda adalah waktu yang paling berharga dari masa hidup seseorang. Dimana kita dapat mempelajari sangat banyak hal berdasarkan kondisi yang nyata. Dimana kita memiliki kuasa, yang lebih besar dari masa kana-kanak kita. Dimana kita memiiki sahabat, dimana rasa cinta tumbuh. Dimana kita dapat bertindak bodoh dan menjadi penyesalan seumue hidup, namun hal itulah yang akan kita kenang dengan baik, menjadi identitas kita sekarang. Semua itu, terisi dean terbungkus dalam emosi-emosi. Kita akan sering merasa bingung, marah, sedih, senang, kita akan mempelajari bagaimana menghadapi emosi-emosi itu dan mengatasinya. Kita akan belajar menjadi dewasa, dan semua pengalaman ini membentuk diri kita. Maka dari itu, seishun tidak bisa tergantikan.

Itulah mengapa seishun memang merupakan topik yang baik untuk dipilih. Orang-orang, tidak peduli berapa umur mereka atau dari generasi yang berbeda, dapat berhubungan dengan topik ini. Sekarang, dalam seishun ini, dalam masyarakat modern, hampir semua terjadi di dalam Sekolah Menengah. “School Idol” juga terjadi dalam keadaan ini, agar semua orang dapat berhubungan dengan seishun melalui hal ini. Dan sekarang, mengapa Ïdol”?

Idol adalah (bagaimana mengatakannya?) kegelapan, hal yang sangat tidak menyenangkan, setidaknya bagi saya. ÏDOL”sendiri asalnya berasal dari simbol dewa-dewa yang palsu. Orang-orang membuat idola-idola untuk didoakan dan dipuja, sehingga mereka dapat merasa aman. Idol dibuat untuk memuaskan keinginan manusia. Dari patung kayu, berevolusi menjadi produk industri seks (maaf jika terlalu vulgar). Uang, eksploitasi seksual, fans yang marah, dan tentu saja, hal-hal yang tidak manusiawi yang harus ditanggung oleh para idol. Para gadis-gadis perawan (sekali lagi maaf jika terlalu vulgar) atau “JK”menjadi bagian besar dari industri seks. Mereka digunakan untuk mencapai kegelapan seseorang seperti hawa nafsu dan lari dari kenyataan, memanfaatkan sifat-sifat gelap tersebut untuk menghasilkan uang. Dan akhirnya, para gadis itu jatuh selamanya dalam kegelapan dari budaya modern yang “bergengsi”. Tidak ada yang tersisa dari mereka. Tubuh mereka bekerja hingga mati dan jiwa mereka tercemar oleh hawa nafsu manusia.

Jadi, mengapa School Idol?

Hal ini akan membedakan School Idols dengan Real Idols. School Idol, membuat lagu mereka sendiri, mereka belajar secara otodidak, bahkan mereka tidak menghasilkan uang delam kegiatan yang mereka lakukan. Sederhananya mereka hanya, hanya, ingin bersinar. Untuk menari, untuk bernanyi, untuk tidak menjadi murid yang biasa saja. Namun, semua itu berasal dari kemampuan mereka sendiri. Tidak ada produser, tidak ada label rekaman, tidak ada industri secara keseluruhan. Hanya sebuah hal yang konyol, atau arogan menurut saya, sebuah keinginan, yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang berada di dalam seishun.

Hal yang bodoh, naif, ambisius, namun murni. Keinginan yang murni dan naif, yang mencetuskan School Idols. Kita dibuat tertegun dengan perasaan yang mereka tunjukan. Dan kita terinspirasi dengan perjuangan mereka dan membuatnya menjadi kekuatan dalam diri kita. Kilauan yang hangat. Lirik lagu yang berulang-ulang mengakatan agar tidak mudah menyerah, mencapai hati banyak orang. Perjuangan mereka yang tulus memberikan hasil dan kita semua sangat tersentuh dengan hal tersebut. Maka itu (menurut saya), semua hal ini hanya akan dapat dicapai dengan School Idols.

Seishun lebih dari sebuah Mimpi.

Sebagian orang berpikir bahwa seishun (masa muda) adalah hal yang sangat berharga seakan-akan hidup dalam mimpi yang tidak pernah berakhir. Atau setidaknya, mereka berharap agar hal ini tidak berakhir. Akiba, dimana Love Live! Berkembang, dikenal sebagai tempat (jika saya tidak salah) dimana impian menjadi kenyataan, atau kota impian. Karena, terdapat sangat-sangat banyak industry kreatif yang berkembang disini, karenanya orang-orang merasa mereka bermimpi disini, hingga mencapai titik dimana disini tabu untuk membicarakan tentang kehidupan nyata seperti umur, pekerjaan dan sebagainya. Impiam dengan nyaman tetap berlangsung selamanya. Ironisnya, disinilah Love Live! membara.

Jika pembaca telah membaca bagaian-bagian sebelumnya dari tulisan ini (maaf untuk para pembaca baru), Love Live! menunjukan bagaimana sebuah grup beranggotakan 9 gadis dapat memotivasi orang-orang untuk terus bekerja mencapai mimpi mereka masing-masing. Awalnya, kita terkejut bagaimana keajaiban dari Love Live tetap berlanjut untuk bertahan. Sebagai salah seorang member Love Live!, miss N-san, juga mengatakan bahwa dia meyakini bahwa proyek yang kurang baik ini akan berakhir hanya dalam beberapa bulan saja. Namun, keajaiban membuat mereka tetap bertahan. Tidak hanya bertahan, mereka juga terus berkembang dan mendapatkan popularitas. Dari voting penggemar, grup mereka dinamai muse (saya seharusnya menggunakan simbol µ disini). Muse, 9 dewi yang mengaspirasi musik, syair dan sajak. Örang-orang dapat berkomentar, berani juga mereka menyebut diri mereka sendiri dewi-dewi. Tetapi, waktu menbuktikan mereka pantas menyandang nama ini. Mereka mendapatkan popularitas yang sangat besar, di Akiba, bahkan kemudian hampir semua orang di Jepang mengetahui para gadis ini. Namun, hal yang tidak masuk akal jika dilihat bagaimana mereka sukses. Jawabannya selalu sama, selau “karena sebuah keajaiban”. Jadi, muse memperoleh popularitas ini hanya karena mereka beruntung? Jawabannya tidak seperti itu, keajaiban yang mereka peroleh berasal dari para fans, staff dan menjadi “Keajaiban kita semua”. Muse adalah idol 2.5D, artinya ada sinkronisasi dari kehidupan nyata dengan kondisi di 2D. Di dalam anime, Honoka dan anggota Muse lainnya, mati-matian berusaha menyelamatkan sekolah mereka, di kehidupan nyata, mereka mencoba untuk menyelamatkan Love Live! Mereka berhasil melakukannya, baik di Anime ataupun kehidupan nyata.

Hal yang indah ini, mereka bawakan pada Muse 4th Live: Endless Parade. Sebuah parade dari mimpi yang tidak pernah berakhir, dibuat dari keajaiban semua orang. Muse secara sempurna menunjukan ini dalam Snow Halation, sebuah lagu fenomenal yang membawa mereka hingga sekarang. Sebuah penggambaran dari fans yang berjuang di tengah badai salju, yang kemudian, Honoka berjuang di badai yang sama di season 2. Sama seperti lagu Muse yang lain. Hal ini membuat orang ingin melakulaknsesuatu dengan lebih baik, bekerja lebih keras dan mewujudkan mimpi mereka. Perasaan yang menakjubkan ini, sama seperti seishun, orang-orang merasakan mereka berada dalam impian yang tidak akan berakhir dalam dunia ideal mereka. Hal ini membuat kita tidak ingin mengakhirinya.

Tetapi, Muse tidak berhenti sampai disini!
Dalam 5th Live: Muse Go  Go! Love Live! 2015 ~Dream Sensation!~
Mereka mengakhiri mimpi-mimpi mereka.
Secara sempurna, hal ini menggambarkan seishun yang sesungguhnya, dimana tidak akan terjebak selamanya disini.
Mereka membawa impian mereka lebih tinggi, panah yang akan menembus awan (lihat logo 5th Live).
Mereka ingin melebihi hanya dari impian saja, lebih tinggi, lebih tinggi lagi.
Memenangkan Love Live! Menangkan kompetisinya!
Dimana di dalam kehidupan nyata, kompetisinya adalah (tentu saja) industri idol itu sendiri. Muse mendeklarasikan bahwa mereka akan mendominasi seluruh Akiba (dimana pada akhirnya mereka berhasil melakukannya).

Namun, tidak berarti bahwa kita harus tetap membawa mimpi ini seterusnya, seperti di dalam anime, mereka bertanya-tanya, setelah murid kelas 3 lulus, mereka akan tetap membuat Muse hidup selamanya dengan cara merotasi member (seperti yang dilakukan hampir semua grup idol di kehidupan nyata).
Jawabannya sudah jelas, tidak.
Muse dibuat dari mereka bersembilan, jadi tidak ada muse tanpa satupun dari mereka.
Di season 2, Muse dibubarkan.
5th Live berlangsung, kemudian kisah Muse berlanjur di Love Live! School Idol the Movie.
Namun, tidak lama kemudian, 6th Live diumumkan, live terakhir mereka.
Muse telah melakukan banyak hal yang menakjubkan, berpartisipasi di Kohaku Utta Gassen (kumpulan lagu pada perayaan tahun baru di NHK dimana hanya penyanyi terbaik di Jepang yang diundang) dan melangsungkan Final Live di Tokyo Dome (tempat terkenal di Jepang, dapat menampung 250.000 orang).
Muse mengatakan “This moment is our miracle” dalam lagu Sore wa Bokutachi no Kiseki, yang mereka nanyikan di Kohaku. Menyatakan bahwa ini adalah momen yang fantastis, momen yang berharga ini tidak hanya dari kami, tetapi juga untuk para fans. Di tempat ini, tepat di momen ini, kita mendapatkan keajaiban kita, Jangan pernah melupakan ini.
Lalu, di Final Live mereka, sama seperti di Movie, Bokutachi wa Hototsu no Hikari, menyambar fans dengan keras. “Would you turn back time? No no no. This is the best (moment).””Lirik ini sangat kuat menunjukan bahwa Muse menyimpan lagu terakhir ini untuk diri mereka. Ini tidak akan bisa diulang, jadi kita dapat bergerak dan terus maju seperti lirik like “The bird wings grow big, now its time to fly through the warm seas.”
Baik Muse di anime dan kehidupan nyata, berakhir dengan baik.
Love Live! menunjukan bahwa masa muda harus direalisasikan sebagai impian terbaik yang bisa kita capai Bersama-sama, simpan kenangan ini selamanya, dan terus maju. Konklusi ini, inilah apa yang akan disimpan oleh fans dengan baik, dan akan diingat sebagai keajaiban mereka.
Seharusnya akan seperti itu.

Honoka adalah Honoka, Tetapi Chika tidak seperti itu.

Tidak lama kemudian, Aquors memulai debut mereka.
Seperti Honoka yang memimpin Muse, Chika adalah pemimpin Aquors.
Kedua pemimpin ini kontras satu sama lain, dan dinamika keduanya yang mempengaruhi Love Live! dan juga masa depan grup mereka.

Honoka bukanlah contoh pemimpin terbaik yang kita punya. Dia sembrono, dia menunjukan banyak contoh yang kurang baik, dia tidak punya talenta yang menonjol, dan terutama, dia pernah sekali memutuskan untuk keluas, meskipun dia yang pertama kali membentuk Muse. Metode kepemimpinan dalam Muse juga tidak ideal. Honoka akan mencetuskan ide secara acak dan anggota yang lain akan mengikutinya. Hal ini dapat berjalan dengan baik, karena kualitas anggota lainnya. Banyak yang berkata, Dia periang dan dapat memotivasi orang lain untuk bekerja, dia juga tidak akan menyerah apapun yang terjadi. Tidak, tidak seperti itu, dia hanya (kurang lebih) menunjukan rasa antusias yang naif dan terlalu positif dengan ide-idenya. Sebuah dorongan yang mencolok. Dia hanya beruntung memiliki teman-teman yang baik sehingga mereka dapat berkerja bersama dengan dia dengan lancer. Pada anime season 1, dia dengan bodohnya jatuh sakit dan membuat kegagalan pada grupnya. Juga saat dia memutuskan keluar, ini merupakan penghianatan yang besar terhadap grup mereka. Sebuah grup yang masih memaafkannya dan tetap merangkulnya adalah sesuatu yang sangat langka.

Tetapi, dia memiliki kualitas lain yang menggantikan segala kekurangan yang dia miliki, dimana, dalam keseluruhan kisah Love Live! terbentuk dari dirinya. Ini adalah kemampuan untuk mengambil langkah mundur. Ketika semua orang berlari kedepan, dia hanya satu-satunya yang mundur kebelakang dan tertinggal, Jika kita mengikuti perjalanan Muse (anime dan movie), kita akan menemukan Honoka sering melakukan hal ini. Ketika yang lainnya berada dalam jalur mereka untuk maju, Honoka akan mengambil langkah mundur dan tinggal, seorang diri. Disana dia dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

Intuisi inilah yang membawa Muse maju sejauh ini.
Ide random untuk memulai School Idol agar dapat menyelamatkan sekolah adalah salah satu buktinya.
Ini adalah pekerjaan Honoka. Dia dapat melihat apa yang orang lain tidak bisa lakukan, dia dapat melihat potensi, meskiput dia tidak bisa menyampaikan hal tersebut dengan baik kepada orang lain, dan yang lain seringkali kebingungan karenanya.
Sebagai gantinya, dia membagikan idenya dengan aksi yang nyata (meskipun terkadang ceroboh), jika kita lihat teman baiknya, Umi dan Kotori, mereka berdua percaya Honoka dapat membawa mereka ke tempat yang baru.

Di episode 10 season 2, ketika mereka merenung, apa yang membuat Muse adalah Muse, Honoka seharian mencari alasannya dan kata-kata terjebak di mulutnya, menyemburkan banyak ide-ide random yang seperti biasanya, membutuhkan pemicu, karena dia kurang bisa untuk mengungapkan ide-idenya. Hingga ketika dia melihat papan harapan di kuil dia bisa membentuk kata-katanya. Itu adalah , “Dreams everyone fulfilled”.

Ketika Muse memenangkan Love Live! dan cerita mereka hampir berakhir. Sekali lagi, Honoka berdiri sendiri di atap sekolah. Kita dapat melihat Honoka mulai berimajinasi ketika Muse berlatih disana. Emosi itu, dia tidak bisa mengungkapkannya dengan baik (seperti biasa). Jadi, dia mengakhirinya dengan mengatakan “”Akhirnya, Aku bisa melihatnya hingga selesai”. Bagaimanapun, itu adalah hanya pemikirian apa yang iya rasakan di hari itu.

Sekarang, kita dapat melihat Ïmajinasi”Honoka menjadi lebih liar di dalam School Idol Movie. Dia mulai melihat seseorang yang asing, yang tidak dapat dilihat para anggota lainnya. Ini juga, adalah bagian dari dirinya. Penyanyi wanita asing itulah yang terbentuk dari apa yang menjadi masalah Honoka ketika itu. Ya, meskipun mereka telah memutuskannya, dan semuannya rtelah berkomitmen untuk itu, Honoka masih bermasalah dengan dibubarkannya Muse. Penyanyi wanita itu adalah proyeksi Honoka terhadap masa depannya. Seseorang yang kesepian yang tetap menyimpan kenangan akan grupnya meskipun telah bubar.. Tetapi, apakah cukup seperti itu? Bubar dan tetap melanjutkan kehidupan kita, apakah inilah “akhir yang sebenarnya”?

Hingga akhirnya Honoka bertemu lagi dengan wanita itu untuk ketiga kalinya. Gambar itu telah menjadi semakin jelas. Sebalumnya di ruang klub, Maki telah membuat lagu terakhir mereka, sebuah lagu terakhir mereka yang spesial (adalah Bokutachi wa Hitotsu no Hikari). Tetapi benarkah harus seperti itu? Mengakhiri semuanya ketika telah mencapai titik tertinggi dan menyimpan kenangan itu dan terus maju? “Toberu”.

Toberu. Toberu yo.
“Terbang!”.

Saat movie dimulai, kita dapat melihat Kotori dan Umi khawatir dengan Honoka yang tetap menantang dirinya sendiri untuk melompati genangan air yang muncul dari hujan. Ketika senandung lagu muncul (yaitu Sunny Day Song), dimana Honoka tidak akan menyerah dan terus berharap dia akan bisa, Honoka mencoba lagi. Kali ini dia lebih rileks, menikmati larinya. Kemudian dia bisa melompati genangan air itu. Kali ini, Honoka terbang, melewati genangan aiur itu di tengah padang bunga. Dia mendapatkan semangatnya kembali. Namun tetap, tidak ada kata-kata yang terucap dari mulutnya.

“School Idol tidak hanya Muse ataupun Arise, tetapi aku ingin ini tetap bersinar.”
Sekali lagi, dia mengucapkan ide-ide random, untuk mengikutkan semua School Idol di seluruh negeri untuk berpartisipasi di dalam konser yang besar bersama-sama. Namun kembali, ketika dia mengumumkan akan membubarkan Muse di depan semua orang, dia bimbang. Benarkah, ini yang terbaik untuk semuanya?

Dan, hari besar itu tiba.
Para member yang lain terus berlari karena Eli berkata orang yang terakhir sampai harus mentraktir minuman. Honoka melakukan langkah mundur, dia menyadari sesuatu dibelakangnya. Sebuah kelopak bunga. Sama seperti impiannya, ketika kelopak bunga berterbangan, dia berlari.
Waktu kembali ke masa kecilnya, dia berlari dengan senang, hampir seperti menari.
Kemudian dia berhenti. Dihadapannya, sebuah pasukan besar School Idol telah menanti.
Dia terkejut dan sedikit menangis.
Tetapi dia kemudian mendapatkan pemecahannya.
“dengan kita yang sekarang disini, aku yakin kita dapat pergi kemana saja, mencapai apapun impian kita! Aku akan melihatnya! Inilah yang membuat betapa menakjubkannya School Idol.” Lalu, Sunny Day Song dimulai.
Sama seperti yang Tsubasa (dari A-rise) inginkan, bukan Muse, bukan lagu A-Rise, tetapi lagu untuk School Idol.

School Idol dan Seishun.
Honoka melihat itu dan percaya dalam School Idol. Karena itulah dia dapat terbang.
Terbang ke dalam ketinggian yang tidak bisa dicapai sebelumnya. Ketika semua anggota Muse yang lain berlari di dalam BokuHika (Bokutachi wa Hitotsu no Hikari), Honoka melakukan langkah mundur. Berpikir. Sendirian. Perasaan yang dia dapatkan sejak hari terakhir mereka berkembang dengan kuat, hingga dia menyadari, terdapat hal yang lebih dari School Idol. Muse mengakhirinya dengan BokuHika, tetapi School idol tidak hanya Muse dan A-Rise, semua orang juga dapat bersinar. Dengan mempercayai hal tersebut, Honoka berani untuk melompat dan terbang, tidak hanya genangan air yang kecil, tetapi melompat melampaui tempat dan impian. Inilah dimana dia mencapai Seishun. Seishun tidak hanya berakhir di puncak, menyimpan kenangan itu dan maju. Hal ini dapat menjadi lebih menakjubkan!.

Tekad ini, dibawa oleh angina (seperti angina yang menuntun Chika) dan ditunjukan sebagai bulu putih untuk orang yang dapat melihatnya.

Chika berbeda dengan Honoka. Dia hampir menjadi gambaran ideal dari seorang pemimpin. Dia peduli dengan anggota yang lain. Menginspirasi mereka untuk bersinar dan bergerak maju bersama-sama. Dia selalu digoda dengan kata-kata “yameru” atau “kamu ingin berhenti?” oleh You dan Riko, bahkan oleh ibunya. Namun jawabannya selalu sama, “Aku tidak akan berhenti!” tegas dan jelas. Tidak seperti Honoka, dia tidak pernah bimbang dan mengkhianati teman-temannya. Dengan bulu putih yang ada di genggamannya, Chika dan semuanya di Aquors akan bersinar dan membuat mimpi semua orang menjadi nyata. Alasan Aquors ada sejak awal karena perjumpaan dengan mimpi itu. Untuk membuat mimpi itu menjadi kenyataan, baik di Anime maupun kehidupan nyata. Untuk menyelamatkan sekolah mereka (tekad dari bulu putih) dan untuk memenangkan Love Live! (memenangkan industri Idol).
Tetapi sedihnya, tidak seperti Honoka, Chika tidak bisa mengambil langkah mundur kebelakang dan melihat sesuatu sedalam Honoka. Chika hanya bisa melangkah maju, sambil merangkul teman-temannya dan menghadapi masa depan. Chika hanya bisa melihat bulu putih, tetapi, dia tidak akan pernah bisa mencapai cahaya itu.

Love Live! Sunshine! season 2 dimulai dengan Chika yang jatuh didalam kegelapan, menyadari bahwa dia gagal untuk menangkap cahaya itu, atau setidaknya “kagayaki” atau sinar yang dia inginkan. Mereka tidak bisa menyelamtkan sekolah mereka, mereka juga tidak bisa memenangkan Love Live!. Kemudian, Sarah dari Saint Snow berkata kepada Chika, “Tidak peduli sebagus apapun kita bernyanyi, menari, kita tidak akan pernah bisa bersinar seperti para pendahulu kita, ini adalah cahaya yang tidak akan bisa kita capai”. Artinya, Chika, Aquors, tidak akan pernah bisa bersinar seperti Muse. Impian Honoka yang lebih dari hanya sekedar BokuHika tidak akan pernah bisa tercapai.

Tetapi Chika tidak menyerah! Chika bukan Honoka. Dia tidak bisa melompat dan terbang. Tetapi Chika adalah Chika, dia mempuat pesawat kertas. Pesawat kertas adalah teknologi, buatan manusia. Bersama dengan Aquors, Chika akan menerbangkan pesawat kertasnya, menyadari bahwa impian semua orang adalah impian yang dibuat oleh manusia, terdiri dari ratusan, ribuan, percobaan dan kegagalan dari berbagai metode. Namun sekali lagi, dia tidak akan melakukannya sendiri.

“Aqours tidak hanya kita bersembilan.”
Member ke sepuluh ada, itulah, para penggemar.
Bersama-sama kita akan mencoba, gagal, lalu mencoba lagi, gagal lagi, mencoba lagi, hingga kita berhasil.
Keajaiban yang diciptakan.
Inilah, Kimi no Kokoro wa Kagayaiteru Kai?”
“Do your hearts shining?”
Apakah kita puas hanya dengan BokuHika, atau kita menyadari bulu putih itu, dan ingin sesuatu yang lebih?

Dengan semua orang yang menjadi satu (season 2, episode 2 dan 3);
Dengan semua orang yang menyadari pertemuan yang ditakdirkan ini (episode 5 dan 6)
Dengan semua orang yang menjadi jujur dan menjadi dirinya sendiri (episode 4 dan 6)
Aquors akan berhasil memenangkan Love Live!
Seperti di kehidupan nyata, mereka sukses memperoleh banyak pencapaian dan akan menggelar fanmeeting keliling dunia.

Tetapi, seperti yang Sarah katakan, meski mereka melakukan hal yang lebih baik dari pendahulu mereka, mereka tidak akan pernah mencapai cahaya itu.
Waktu yang diberikan oleh Direktur telah habis. Sekolah tidak akan selamat.
Di episode 7, bulu putih terbang selama lagu Sora mo Kokoro mo Hareru Kara, namun tidak ada anggota yang mencapainya, bahkan Chika sekalipun.
Tetapi, setelah pemecahan yang mereka buat, Chika dapat menggapai bulu itu, meskipun tidak berwarna putih lagi.

Kemana masa depan itu berada, masih menjadi tanda tanya.
Tetapi, jika hati kita benar-benar bersinar, saya yakin, kita akan berada disana sebagai anggota kesepuluh.

-Part (EX): Firasat yang Samar (a Faint Premonition)-
Tamat.

In Case You Missed It...