November 26, 2017 — 247 views

Melampaui Cahaya: Dreams won’t Fade (Bagian 4)


“I know it’s actually scary
It’s not like i was able to do it from the start, either
I was really frustrated.

Tears in your eyes that want to try believing
Oh, the suns smiling down on you”


Pintu telah tertutup, open house telah dibatalkan. TIdak ada yang tahu apa yang harus kita lakukan. Tetapi, kita sudah melakukan yang terbaik bukan? Sebagai seseorang dari pedesaan seperti Uchiura, hanya berhasil hingga tingkat regional. Mencoba yang terbaik Bersama semuanya, bersenang-senang Bersama, meskipun sekolah kita tetap akan ditutup. Kita sudah melakukan apa yang diri kita di masa lalu tidak mungkin bisa lakukan. Jadi, apakah ini cukup?

“I’ll make… a miracle happen no matter what
until then… I won’t cry… I’m not gonna cry!”
Meskipun semua terlihat suram, ketika semua seperti tidak ada harapan, yang tersisa hanyalah Chika yang tidak menyerah. Aquors tidak pernah menyerah. Jika tidak ada harapan yang tersisa maka yang mereka butuhkan adalah membuat harapan itu sendiri. Mereka akan merubah masa sekarang dengan membuat sebuah keajaiban. Mereka tidak tahu bagaimana membuatnya, tetapi mereka tidak ingin menyerah sekarang, ketika realita memaksa mereka untuk menyerah, jika masih ada waktu yang tersisa dan sedikit saja kemungkinan, maka mereka akan mensukseskannya. Mereka tidak akan menyerah apapun yang terjadi.

Keteguhan ini juga selaras dengan lagu penutup Yuuki wa Doko ni Kimi no Mune ni dimana tema utama dari lirik lagu ini adalah untuk tidak menyerah dan mencoba lagi. Try and be brave, it’s not like I was able to do it from the start. I messed up a lot, I was really frustrated but that gave me strength. So just don’t give up. Let’s chase them as many times as it takes, don’t lose. Kutipan dari Yuuki wa Doko ni ini sangat menggambarkan Aquors dengan baik, menggambarkan pergumulan mereka di season 1. Berbeda dengan muse, Aquors sering menghadapi kegagalan. Dari waktu acara di Tokyo, lalu ketika mereka telah menjadi grup beranggota 9 orang, dan akhirnya pada Mirai Ticket. Di akhir season 1, semua perjuangan mereka menemui kegaggalan. Namun mereka tidak menyerah dan berhenti.

Seluruh kegagalan itu memberikan mereka kekuatan untuk mencoba kembali. Karena kegagalan itu hanyalah sebuah angka nol. Nol dapat menjadi satu selama kita terus mencoba. Dan jika kita mencoba dengan sangat keras, mungkin satu akan menjadi sepuluh lalu seratus. Selama kita tidak menyerah, maka impian kita tidak akan pudar, itulah mengapa seperti di lirik, Aquors akan mengejar hal tersebut, tidak peduli berapa kali yang mereka butuhkan untuk membuat keajaiban menjadi nyata selama waktu mereka masih ada. Karena seperti pada bagian solo Chika, ketika dia melihat senja, adegan tiba-tiba berubah menjadi Chika yang tenggelam di lautan hitam yang merefleksikan kegagalan Chika dan Aquors di Mirai Ticket. Tetapi, apa yang dia lakukan? Dia bangkit dari lautan itu dan pagi baru tiba dengan burung-burung yang terbang ke atas matahari.

Seluruh adegan ini merefleksikan perjalanan Aquors. Mereka gagal, mereka terjatuh, mereka menangis, namun itu semua tidak membuat mereka berhenti untuk bangkit kembali dengan kepala tegak, siap dan mencoba lagi pada hari yang baru dan pagi hari yang baru.

Meskipun ending ini cukup baru, tidak demikian dengan temanya. Ennding ini membagikan tema yang sama dengan lagu signature Aquors, Kimi no Kokoro wa Kagayaiteru kai?. Topik utama dari Kimikoo adalah untuk menanyakan apakah kita merasakan kegembiraan yang sama dengan para penyanyi dan apakah kita mau untuk mencoba melakukan hal yang baru dengan mereka. Namun tersembunyi di dalam lirik itu adalah sebuah frasa, If you give up just because it didn’t go well, You’ll definitely regret it later (Right?), That’s why, even if it’s unreasonable, I want to try. Seluruh bagian ini menunjukan keteguhan Aquors untuk tidak pernah menyerah hanya karena realita tidak masuk akan dengan mereka. Bahkan jika tidak masuk akal, jika mereka tidak mencoba, mereka akan menyesalinya nanti. Maka itu, mereka akan mencoba yang terbaik sehingga mereka tidak akan menyesal terlalu lama.

Ending ini memiliki kesamaan dengan Kimikoko yaitu melalui bulu dan burung camar. Dalam ending kita melihat burung camar terbang menuju matahari dan di Kimikoko kita dapat melihat burung camar terbang melintasi lautan menjatuhkan sebuah bulu di depan Chika. Berbicara tentang burung camar, burung camar adalah burung laut yang akan bermigrasi melintasi laut untuk menghindari iklim yang dingin. Melihat dari perspektif Aquors dan Muse, burung camar adalah burung yang dibicarakan dalam lirik bikuhikari yang juga terbang melintasi lautan. Jika muse adalah burung camar yang terbang sangat jauh menuju cahaya, Aquors adalah pesawat kertas yang ditakdirkan untuk jatuh. Namun, berbicara tentang probabilitas, terdapat kemungkinan bahwa sebuag pesawat kertas akan terbang mengikuti angin dan angin itu tidak akan berhenti hingga mencapai tempat tujuannya. Ini terdengar bodoh dan mustahil tentu saja. Menghitung berapa banyak jumlah pesawat kertas yang dibutuhkan untuk mereplikasi kemungkinan ini, mungkin bisa dengan 100 juta pesawat kertas, tapi bisa saja tidak ada yang mencapai tempat tujuan dengan jumlah sebesar itu. Tetapi, kemungkinannya tetap ada, dan jika kemungkinaan masih ada, maka tidak ada alasan untuk menyerah mencoba hanya karena ini terlihat tidak mungkin.

Berbicara tetang sejarah, sudah banyak keajaiban yang dibuat di dunia ini seperti penemuan Penicilin. Layak disebut sebagai obat ajaib, yang bisa menyembuhkan berbagai infeksi bakteri. Dengan penemuan Penicilin, banyak orang dapat sembuh dari penyakitnya. Penemuan besar lainnya adalah pesawat terbang dan bola lampu yang mampu membuat hidup menjadi lebih mudah karena memberikan akses untuk pergi ke tempat yang jauh dan dapat menerangi kegelapan sehingga orang tidak perlu takut dengan gelapnya malam semenjak itu. Keduanya adalah penemuan besar yang sejajar dengan keajaiban dalam sejarah manusia, namun keduanya memiliki perbedaan yang sangat besar. Penicilin ditemukan dengan kebetulan dari jamur yang memproduksi bahan penicillin yang mempu membunuh bakteri, sementara bola lampu dan pesawat terbang ditemukan dari berbagai macam percobaan dan kegagalan hingga berhasil. Jumlah bahan yang digunakan untuk membuat bolam lampu bekerja dan jumlah percobaan yang dilakukan untuk membuat pesawat dapat terbang sungguh sangat banyak.

Apakah kedua contoh diatas mengingatkan kita akan sesuatu? Ya, kedua contoh ini merefleksikan keajaiban muse dan Aquors yang berusaha mencapainya. Snow Halation adalah keajaiban yang menyelamatkan muse, sehingga mereka dapat bersinar lebih terang dan dapat diperdebatkan, penuh kebetulan. Muse sangat identic dengan Snow Halation yang dimana hamper semua masyarakat Jepang pernah mendengarnya, namun jika mereka tidak merilis Snow Halation di album kedua mereka, jika mereka merilis tema lagu yang berbeda. Tidak aka nada yang tahu jika mereka akan bisa bersinar seperti yang telah mereka lakukan sekarang. Ini mengapa, keajaiban muse adalah sebuah kebetulan semata. Kebetulan yang membuat mereka mengejar sekuat tenaga sehingga mereka bersembilan dapat bersinar dengan sangat terang seperti bintang-bintang. Dari awalnya, Aquors tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengunggu keajaiban, tidak ada yang tahu kapan keajaiban itu akan muncul dan jika mereka tidak melakukan sesuatu, mereka hanya menunggangi arus yang dibuat oleh muse. Jadi jawaban mereka adalah mereka akan mencoba sekuat tenaga mereka, seperti pada lirik kimikoko. Kita meraka sesuatu dari cahaya ini, karena itu kita akan mencoba melakukan sesuatu. Karena itu, kita tidak akan pernah menyerah hanya karena kita gagal karena kita akan menyesalinya nanti.


“No one tries to make a miracle happen from the start.

They just try as hard as they possibly can to do something.

They want to make it work. They want to change something.

It might really be as simple as that.

Membicarakan tentang pesawat, terdapat hubungan yang menarik antara burung camar dan pesawat. Sekarang ini, di penerbangan umum, untuk take off, mereka perlu melintasi runway dahulu untuk mencapai kecepatan yang dibutuhkan sehingga gaya angin dapat mengangkat pesawat yang besar itu untuk terbang. Konsep ini datang dari burung camar yang kita sedang bicarakan. Terdapat salah satu tipe burung camar yang menggunakan kakinya untuk berlari, untuk membantu mereka mencapai momentum sehingga mereka dapat mengendarai angin untuk terbang. Sama seperti bagaimana pesawat untuk terbang dan pesawat kertas pun juga menggunakan metode yang sama.

Gerakan ketika melempar pesawat kertas menjadi momentum yang dibutuhkan pesawat kertas sehingga dapat terbang ketika tertiup angin, sehingga mungkin saja suatu hari dapat mencapai tujuan seperti yang ingin dicapai juga oleh burung camar. Ini mengapa, Aquors tidak akan pernah menyerah, hingga mereka membuat keajaiban mereka sendiri. Karena jika kita tidak dapat menunggu sebuah keajaiban, maka kita hanya perlu membuat keajaiban itu sendiri sehingga kita juga dapat terbang seperti apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita.



“Let’s make a miracle happen. Let’s struggle as hard as we can!

Let’s give it all we’ve got!

Let’s shine together until the very end!”

  • Bima Progo

    Buset dah min…. bahkan smpe 2/3 seri LLS S2 masih salah nulis “Aquors” aja nih…. yg bener AQOURS!!! wkwkwk… sori jd emosi :v

In Case You Missed It...