November 19, 2017 — 204 views

Melampaui Cahaya: ‘We Can Dream’ (Bagian 3)

Akhirnya tiba waktunya, 7 November 2017, episode pertama dari musim kedua Love Live! Sunshine!! ditayangkan dimana isinya, semua kerja keras yang telah dilakukan Aquors selama ini seperti dikhianati. Mirai Tikect masih gagal membuat mereka menembus babak penyisihan, waktu mereka hamper habis, dan tiba-tiba semuanya menjadi suram. Tidak ada yang tahu apa yang harus dilakukan.

Episode ini dimulai dengan Chika yang bermimpi tentang pesawat kertas yang terbang menuju cahaya yang bersinar dan Chika berlari untuk menangkapnya, dimana pada kenyataannya, dia juga menangis. Lalu, dia tiba-tiba terbangun dari mimpinya dan semua terasa baik-baik saja. Semua berada dalam semangat yang tinggi untuk mencoba lagi meskipun gagal dalam babak penyisihan yang lalu. Rencana baru untuk mensukseskan Open House telah dibuat dan mereka sekarang telah memiliki tempat untuk latihan. Kita juga dapat melihat adegan kecil dengan Chika Riko yang membicarakan tentang Chika yang dapat melihat sinar itu. Dia merasa bahwa jika mereka bekerja keras seperti ini, mereka akan bisa menggapai cahaya itu.

Tetapi, tiba-tiba kabar buruk datang, Ayah Mari memutuskan mereka telah menunggu terlalu lama. Sekolah sudah tidak bisa diselamatkan dan kegiatan Open House dibatalkan. Dalam waktu singkat semua jalan telah tertutup, adegan Chika yang berbicara dengan Riko di pantai menekankan hal ini, mencerminkan Chika yang memberikan semangat ke Riko sehingga dia bisa mulai memainkan piano lagi, namun kali ini, Riko hanya dapat membuat Chika tersenyum. Dia juga tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Hanya penyesalan yang tersisa, jika saja waktu itu Mirai Ticket berhasil. Jika saya waktu itu kita bekerja lebih keras, mungkin saja.

Kegagalan ini merefleksikan mimpi Chika tentang pesawat kertas. Pesawat kertas, seperti yang kita tahu adalah sesuatu yang dibuat oleh manusia untuk meniru gerak terbang karena keinginan manusia untuk terbang. Tapi, jika tidak ada angin, pesawat kertas akan langsung jatuh ke tanah. Jika angin berhenti, pesawat kertas juga akan jatuh. Ini mencerminkan apa yang terjadi dengan Aquors, mereka telah bekerja sangat keras. Angin mereka telah berhembus untuk menjalankan kapal mereka menuju masa depan. Namun akhirnya, angin tersebut berhenti dan kapal mereka berhenti, mencerminkan bagaimana Chika sebagai pengemudi kapal tersebut, jatuh ke dalam kegelapan. Tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

Sebagian orang juga dapat melihat bahwa pertanda ditutupnya sekolah telah diperlihatkan di lagu Opening dimana Chika melihat gerbang sekolah mereka di musim semi ketika sudah jelas mereka masih berada di semester kedua. Ini adalah masa depan yang dia tahu, mencerminkan judul lagu Opening ini. Jika ini terjadi, jika tidak ada yang dilakukan, maka hasilnya adalah sekolah mereka akan ditutup dan apa yang sudah mereka lalukan akan menjadi sia-sia. Meskipun mereka telah bekerja keras hingga hari ini, ketika semua orang telah berada di sisi mereka. Ketika mereka telah bersenang-senang dan bekerja keras untuk membangun masa depan mereka, masa depan yang mereka tahu, masa depan yang mereka tahu memberi jawaban dimana sekolah mereka akan ditutup. Ini bukan sesuatu yang mengejutkan, karena pengurus sekolah telah melakukan yang terbaik selama 3 tahun dan masih saja, jumlah dari calon murid tidak meningkat.

Bandingkan dengan muse, ini cukup aneh karena muse bahkan tidak perlu mencapai musim kedua untuk menyelamatkan sekolah mereka. Mereka hanya butuh 8 episode dan mengumpulkan semua anggota lalu sekolah mereka berhasil diselamatkan, dimana jika membandingkan dengan Aquors, ini cukup curang. Tetapi, sesungguhnya sejak Snow Halation, muse telah membuat keajaiban untuk mereka ikuti dimana Aquors belum memilikinya. Ini juga mengapa saat dimulainya musim kedua, Muse memutuskan untuk memenangkan Love Live yang dapat diartikan untuk mencapai puncak keajaiban mereka di waktu itu dan Auors masih mencari cahaya mereka. Resolusi ini juga terefleksi dalam lagu opening mereka, Sore wa Bokutachi no Kiseki, dimana liriknya menekankan banwa dengan waktu mereka yang tersisa, mereka tidak akan berkompromi, mereka tidak akan puas hanya dengan kenangan yang indah, mereka akan berlari dengan penuh keyakinan dan seluruh yang mereka punya untuk mencapai masa depan cerah yang telah menanti mereka. Menikmati waktu mereka yang terbatas tanpa penyesalan, mereka akan menangkap mimpi yang mereka impikan hari itu, melukis impian yang sama, berlari menuju masa depan. Pertemuan 9 orang ini merupakan keajaiban yang hanya menjadi milik mereka. Lagu ini penuh dengan harapan dan keyakinan untuk menatap masa depan, untuk sesungguhnya membuat impian yang mereka impikan menjadi kenyataan, sangat kontras dengan lagu opening musim kedua Aquors yang membicarakan tentang seseorang yang kehilangan jalan mereka lalu berharap bahwa masa depan mereka akan tahu jawabannya.

Membandingkan kedua lagu opening ini, sudah jelas bahwa Chika dan seluruh anggota Aquors yang lain tidak tahu apa yang mereka cari, mereka hanya merasakan cahaya namun tidak tahu bagaimana cara mengejarnya.

Jika membandingkan dengan grafik matematika, langkah muse seperti grafik eksponensial sementara Aquors seperti grafik logaritma. Tidak akan membahas ini terlalu dalam, persamaan grafik untuk muse adalah y = 9x dimana y adalah output, 9 adalah 9 anggota muse, dan x adalah respon dari para fans. Persamaan untuk Aquors adalah y = log9x dimana y adalah output dan x adalah respon dari para fans. Perbedaan besar antara kedua grafik ini adalah ketika keduanya menggunakan angka 0 sebagai X. Untuk grafik eksponensial, 0 akan membuat mereka kembali ke 1 seperti yang Muse capai ketika Honoka jatuh sakit di episode 11, Kotori yang tiba-tiba hamper pindah keluar negeri, dan mundurnya mereka dari Love Live. Mereka kembali ke 1. Jika dibandingkan dengan Aquors yang menggunakan grafik logaritma, bahkan ketika kita menggunakan kalkulator, ketika x = 0, hasil dan grafiknya akan error.

Ini mengapa jika dibandingkan dengan Aquors, ketika ditanya di episode 5 musim kedua Love Live di lagu Dancing Stars in Me, Honoka berkata pada Eli bahwa mereka akan baik-baik saja seperti ini karena jalan mereka sekarang inilah yang membentuk Aquors. Ini juga dibahas sedikit di Movie saat Honoka bertemu dengan Josei Singer kedua kalinya, dia mengatakan bahwa alasan mereka sukses adalah karena mereka bekerja keras dan bersenang-senang dalam prosesnya, bukan karena trik atau metode khusus, namun tetap jadi diri mereka sendiri. Dimana untuk Aquors, sebuah 0 untuk mereka bererti bahwa metode mereka gagal karena mereka bahkan tidak tahu cara untuk mencapai cahaya mereka. Setiap kali mereka mendapat sebuah 0, mereka merubah metode mereka, dari menambah anggota mereka dari 6 menjadi 9, mengikutsertakan seluruh murid dan anggota keluarga di dalam konser, namun mereka tetap gagal, dan sekarang mereka masih mencari cara baru lagi sehingga mereka dapat berlari menuju cahaya itu. Jika membandingkan dengan kecepatan mereka untuk mencapai puncak, grafik eksponensial juga akan membawa mereka lebih dekat ke puncak dimana logaritma akan membutuhkan nilai variable bebas yang lebih besar untuk mengejar grarik eksponensial, dimana waktu untuk sebuah School Idol sangat terbatas untuk grafik logaritma.


“I think it’s something more than being good.”

“In fact, many Love Live performers these days can sing and dance in the same league as our senpai idols.”

“But no one thinks that they’re equals.”

“The radiance of the pioneers who established the popularity of Love Live from the beginning…”

The light that can’t be reached…

  • Bima Progo

    Aqours min…. bukan Aquors smpe season 2 masih salah mulu nih wkwkwk

In Case You Missed It...