May 7, 2017 — 193 views

Relasi Kuasa dalam Komik Perennium Karya Kharisma Jati

[Spoiler Alert: Pembahasan komik Perennium ini mencakup sampai bab empat. Jika anda belum membaca, silakan mengambil waktu sejenak untuk membaca dahulu. Perennium adalah harta karun nusantara]

Splash

Komik Indonesia adalah sebuah komoditas baru di pasar kreatif dalam negeri. Perkembangannya sudah dimulai sejak zaman candi-candi, rubrik cergam di media massa era penjajahan Hindia-Belanda dan terus berlanjut sampai pada masa keemasannya, era R.A. Kosasih, Teguh Santosa dan kawan-kawan seangkatannya. Komik Indonesia seolah “mati suri” beberapa tahun setelah masuknya komik Jepang ke pasar Indonesia. Baru setelah tahun 2010-2011, komik Indonesia mulai bangkit kembali melalui penerbit Gramedia, bidang khusus komik dalam negeri bernama “Koloni”. Kemudian mulai bermunculan majalah-majalah komik Indonesia seperti Re:On, Kosmik, Wookwook dan Shonen Fight —kemudian berubah nama menjadi Fight Comic Magazine pada pertengahan tahun 2016.

Shonen Fight adalah majalah komik milik perusahaan Indonesia, PT. Fajar Waka Semesta dibawah pengawasan dan direksi dari perusahaan Jepang, Layout Japan, LLC. Dipimpin oleh kepala editor dari Jepang bernama Yoshihiko Wakanabe. Dengan gaya cerita berstandar Jepang, Shonen Fight berhasil mengemas beberapa judul komik dengan nuansa Indonesia seperti “Kalasandhi” karya Azisa Noor dan “Inheritage” karya Mukhlis Nur. Ada pula komik berjudul “Perennium” karya Kharisma Jati yang tidak terang-terangan mengatakan bahwa referensinya adalah dari Indonesia, namun menunjukkan beberapa referensi semiotis dalam visual, nama dan bahasa yang digunakan.

Dari sekian banyak judul yang telah disebutkan, komik Perennium mengundang banyak pertanyaan. Latar belakang cerita komik ini adalah Bangsa Langit yang menjajah Bangsa Bumi. Bangsa langit yang datang dengan teknologi maju dapat dengan sangat mudah menguasai Bumi. Mendirikan koloni di Bumi, rupanya tampak akulturasi budaya dari Bangsa Langit dan Bumi yang menghasilkan kendaraan, rumah dan gedung-gedung bergaya campuran.

Menarik apabila dibandingkan dengan Indonesia masa penjajahan yang juga mengalami hal yang sama mengingat Indonesia juga pernah dijajah oleh beberapa negara Eropa dan Jepang. Apa lagi jika kesamaan visual juga ditelaah lebih lanjut, seperti baju dari bangsa Bumi yang menyerupai pakaian adat Jawa dan baju zirah yang merupakan produk perang bangsa Eropa. Jika bukan kebetulan, maka terang bahwa komik ini sedang mencoba untuk menyampaikan sesuatu tanpa terang-terangan mendikte isi pesannya. Isi pesannya akan menjadi pembahasan lebih lanjut, karena untuk saat ini cukup jelas Perennium sedang mereferensikan Indonesia di masa penjajahan.

Analisis Semiotis Pakaian dan Senjata

Pdank niy Pdank

Penampilan Bangsa Langit

Perennium menggunakan pola alur bercerita maju mundur. Tiga masa yang diceritakan dalam komik ini menggunakan pakaian dan senjata yang berbeda-beda. Bukti visual paling mencolok yang ada dalam komik ini ada pada masa lalu sebelum Bangsa Langit menguasai Bumi, ketika belum terjadi akulturasi sama sekali.

Bingung
Motif Garis

Bangsa Bumi dan pakaiannya

Pada masa lalu, Bangsa Bumi tampak menggunakan pakaian dengan kain bermotif garis-garis dan floral serta topi dari kain dan topi dari anyaman bambu. Senjata yang digunakan diantaranya adalah pedang berbilah besar dan pisau kecil dengan bilah yang melebar didekat gagangnya. Sedangkan bangsa langit menggunakan baju zirah berbahan metal dan bersenjatakan pedang panjang berbilah ramping dan senjata api.

Orang Jawa

Orang Jawa dan pakaiannya


Armour

Baju zirah Eropa

Kekontrasan ini juga tampak pada masyarakat jajahan. Masyarakat Jawa pada masa lampau menggunakan pakaian bermotif garis-garis yang disebut lurik, motif floral yang disebut batik dan juga topi dari anyaman bambu bernama caping. Senjata yang digunakan juga menunjukkan kemiripan seperti pedang berbilah besar yang bernama golok dan pisau berbilah melebar kearah gagang yang bernama keris. Selain itu, pada masa itu masyarakat Eropa datang dengan senjata api, sedangkan orang Jawa tidak memilikinya.

Clash
Clash

Perbandingan senjata Cindhil dengan Keris Yogyakarta

Pakaian dan senjata yang telah dijelaskan menjadi tanda yang memperkuat argumen bahwa Perennium menggunakan referensi masa penjajahan dengan menunjukkan Bangsa Bumi sebagai gambaran masyarakat Jawa dan Bangsa Langit adalah gambaran bangsa Eropa. Namun masih ada penjelasan yang lebih menarik daripada hanya dari data semiotis pakaian dan senjata saja.

Analisis Berdasarkan Nama

angker

Rumah keluarga Pangloss disebut angker oleh Cindhil

Nama seseorang adalah variabel identitas, ia adalah pembeda antara satu individu dengan individu yang lain. Nama-nama karakter Bangsa Langit dan Bangsa Bumi juga sangatlah berbeda, sehingga menjadi sangat mudah bagi pembaca untuk membedakan antara anggota Bangsa Bumi dengan Bangsa Langit.

Nama-nama karakter Bangsa Langit antara lain adalah Martin Pangloss, Annelies Pangloss, Rob dan Jean. Sedangkan nama-nama Bangsa Bumi adalah Cindhil (nama panggilan) dan Nyai Sianidah. Nyai Sianidah dipanggil “mama” disepanjang cerita, kecuali oleh robot penjaga keluarga Profesor Pangloss, Cacambo.

Annelies, Martin, Rob dan Jean adalah nama yang lazim di Eropa. Namun rupanya, nama Martin, Cacambo dan Pangloss juga digunakan dalam buku berjudul “Candide: ou l’Optimisme”, sebuah novel satir Perancis karya filsuf Voltaire yang melawan filsafat optimisme Gottfried Leibniz. Filsafat Optimisme ini terus ditekankan melalui karakter dr. Peter Pangloss, mengatakan bahwa semua hal di dunia ini tercipta dan terjadi untuk yang terbaik. Filsafat ini bahkan menjadi justifikasi untuk membunuh karena semuanya pasti terjadi untuk kebaikan besar. Karakter Martin Pangloss dalam Perennium juga diceritakan bersedia menghabisi bangsa Bumi yang dianggap sebagai pengganggu.

Dilain pihak, nama Cindhil memiliki arti “anak tikus” dalam bahasa Jawa. Nyai Sianidah memiliki sebutan khas Jawa, “Nyai” yang digunakan untuk menyebut wanita dewasa. Dalam konteks penjajahan Belanda, “Nyai” digunakan untuk menyebut selir dan wanita “peliharaan” tentara kolonial. Dari aspek nama, dapat terlihat bahwa referensi masa penjajahan semakin jelas.

Analisis Budaya Campuran

Pada masa penjajahan, sebuah negara tentunya memiliki suatu kebudayaan yang tercampur dengan budaya penjajahnya. Hal ini tentu terjadi pula pada Bangsa Bumi dan Bangsa Langit di daerah kolonial, misalnya bahasa, arsitektur, kesenian dan produk-produk perkakas lainnya. Dalam komik Perennium menampilkan beberapa hal yang menunjukkan percampuran budaya tersebut. Misalnya bangunan-bangunan yang ada dalam komik, Delman (kereta kuda) dan bahkan status sosial juga menunjukkan percampuran budaya tersebut. Bisa dikata bahwa Perennium memiliki referensi Indis, atau mengalami indisisasi.

BNI

Gedung BNI di Yogyakarta yang dibangun dengan gaya Indo-Europeesche Bouwkunts

Hasil percampuran budaya penjajahan Hindia-Belanda disebut kebudayaan Indis. Diawali oleh datangnya bangsa Belanda ke Indonesia, mulai membangun gudang-gudang (pakhuizen) milik Vereenigde Oost- Indische Compagnie (VOC) yang dilindungi dalam benteng. Para pejabat tinggal dalam benteng itu setidaknya sampai pertengahan abad 18. Akhirnya mereka membangun landhuis, rumah peristirahatan dengan taman luas dengan gaya arsitektur Indo-Europeesche Bouwkunst —arsitektur bergaya campuran seni bangunan lokal dan estetika eropa— yang ditinggali oleh pejabat dan puluhan sampai ratusan budak-budaknya.

Faktor besar yang sangat memperkuat terjadinya budaya Indis adalah adanya larangan pejabat Belanda membawa isteri —dan mendatangkan perempuan— dari Belanda. Hal ini menyebabkan banyaknya terjadi pernikahan antara bangsawan Belanda dengan orang Jawa. Budaya baru dari hasil pernikahan ini juga membuat sebuah kelas sosial baru dalam masyarakat, muncul banyak priyayi baru dan pejabat peranakan Indo-Belanda.

Mama

“Mama” Nyai Sianidah

Selain dari adanya arsitektur bergaya campuran, bahasa juga terpengaruh. Munculnya bahasa Peetjoek adalah hasil percampuran bahasa Belanda dengan parole Jawa. Seperti dalam komik Perennium, Nyai Sianidah menyebut dirinya “mama”, bukan ibu atau nyai.

Delman

Delman khas Perennium dengan pengemudi robot

Munculnya delman dalam komik Perennium juga mendukung argumen tentang referensi masa penjajahan. Delman di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh insinyur Belanda bernama Charles Theodore Deeleman (namanya kemungkinan besar menjadi sumber nama Delman). Kendaraan inilah yang digunakan oleh Rob dan Cindhil saat berangkat berkunjung ke rumah Pangloss.

Warga kelas dua

“Namun tetap saja, orang bumi hanyalah warga kelas dua!”

Kelas sosial juga menjadi bagian sangat penting untuk diperhatikan. Sejak awal komik dimulai, Cindhil sudah mengatakan kalimat yang menggambarkan masalah dalam komik ini; “Namun tetap saja, orang bumi hanyalah warga kelas dua!”. Pada masa penjajahan, khususnya Hindia-Belanda, kebudayaan Indis tercipta karena aturan pemerintah kolonial untuk membedakan bangsawan dengan warga jajahan.

Dari sekian banyak referensi, bisa dibilang Perennium secara sengaja memang memasukkan masa Penjajahan sebagai referensi. Bangsa Eropa dalam wujud Bangsa Langit dan Masyarakat Jawa dalam Bangsa Bumi. Maka Kharisma Jati sebagai penulis cerita tentu saja memiliki pesan tersembunyi dalam komik ini.

Relasi Kuasa dalam Komik Perennium

Terasa ambigu bila mengingat bahwa Bangsa Bumi hanya digambarkan dengan ciri khas masyarakat Jawa, padahal Indonesia tidak hanya orang Jawa. Sedangkan Bangsa Langit tidak secara jelas menggambarkan bahwa mereka adalah orang dari negara tertentu, hanya stereotipe orang Eropa. Dalam konteks ini, Kharisma Jati sedang menggambarkan masyarakat Jawa sebagai pars pro toto dari Indonesia. Barangkali ia terinspirasi dari lingkungan tempat ia lahir dan tinggal yaitu Yogyakarta, dimana turis Kaukasia dihormati oleh orang-orang Jawa.

Simbol yang sangat jelas ketara dari komik ini justru ada pada baju lurik yang digunakan oleh robot pengendara Delman. Seolah Kharisma Jati sedang menunjukkan bahwa saat ini orang Indonesia hanya menjadi mesin, pelayan bagi orang Eropa. Dari situ pesan Kharisma Jati melawan relasi kuasa dan pengaruh yang dibawa oleh bangsa Eropa mulai menjadi jelas. Perlawanan yang ditawarkan oleh Kharisma Jati adalah untuk melawan budaya hierarki yang yang dibawa oleh penjajah. Kelas sosial harus dihapuskan dari Indonesia dan terbebas dari proyeksi kedamaian palsu, seperti kata Nyai Sianidah dalam bab empat komik Perennium —seperti bagaimana Cindhil adalah gambaran dari Candide yang akhirnya melawan pandangan dr. Peter Pangloss. Indonesia sedang diingatkan melalui komik ini bahwa semua manusia itu setara dan layak untuk menerima perlakuan yang sama dengan orang lain.

Tamu

Tamu tak diundang

Relasi Kuasa dalam komik ini adalah bagaimana Kharisma Jati mencoba untuk bernegosiasi, menyampaikan gagasannya untuk melawan kelas sosial yang berujung pada kapitalisme dan otoritarianisme. Namun dalam komik Indonesia, tidak mungkin bagi Kharisma Jati untuk menyampaikan pesan ini secara gamblang —atau akan ditangkap oleh otoritas— kepada masyarakat. Maka yang bisa ia lakukan hanyalah berpesan melalui tanda. Kekuatan dan kelemahan Kharisma Jati ini disebabkan karena fleksibilitas kuasa, relasi kuasa mudah berpindah. Harapan Kharisma Jati begitu besar, namun relasi kuasa terus berpindah tangan, kadang dia ada dibawahnya, kadang ia memegangnya.


Note tambahan:

Artikel ini adalah hasil suntingan dari skripsi penulis. Penulis sudah bertemu dengan Kharisma Jati secara langsung dan memastikan kebenaran hasil penelitian semiologis ini. Hasil dari pembicaraan penulis dan Kharisma Jati menyatakan bahwa tebakan penulis dalam skripsi tepat sasaran. Mereka sempat boncengan naik motor juga.


Ditulis oleh utuluu, disunting oleh adriennemarsh


Referensi

Barthes, R. (2006). Membedah Mitos-mitos Budaya Massa: Semiotika atau Sosiologi Tanda, Simbol dan Representasi. Yogyakarta: Jalasutra.

Berkman, A. (1929). Now and After: The ABC’s of Communist, Anarchism. New York: Vanguard Press.

Bonneff, M. (2008). Komik Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Foucault, M. (2002). Arkeologi Pengetahuan. Yogyakarta: Kalam.

Foucault, M. (1995). Discipline and Punish: The Birth of the Prison. New York: Vintage Books.

Foucault, M. (2002). Power/Knowledge: Wacana Kuasa/Pengetahuan. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Haryatmoko (2016). Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis. Yogyakarta: Kanisius.

Hoed, B. H. (2014). Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Depok: Komunitas Bambu.

Raffles, T. S. (1830). The History of Java. London: John Murray.

Soekiman, D. (2014). Kebudayaan Indis: Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi. Depok: Komunitas Bambu.

Sunjayadi, A. (2007, Mei 1). Mencari Asal Usul Keluarga Indo Prancis di Jawa. Retrieved Mei 11, 2016, from Sangkelana: https://achmadsunjayadi.wordpress.com/2007/05/01/mencari-asal-usul-keluarga-indo-prancis-di-jawa/

Voltaire. (1964). Candide: ou l’Optimisme. New York: Holt Rinehart and Winston.

Widjaja, H. (1997). Komunikasi: Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta: Bumi Aksara.

Wijaya, I. N. (2012). Relasi-relasi Kekuasaan di balik Pengelolaan Industri Pariwisata Bali. Jurnal Humaniora, 141-155.

Yanti, S. (2013, Maret 10). Akidah Filsafat. Retrieved Februari 11, 2016, from http://syafieh.blogspot.co.id/2013/03/pengetahuan-dan-kekuasaan-dalam.html

In Case You Missed It...