April 12, 2017 — 115 views

Menengok Hiperrealitas Sebagai Instrumen Kuasa dan Kritik Atasnya dalam Whitewashing Ghost in the Shell

[Spoiler Alert: Pembahasan Ghost in the Shell memaksa saya untuk menceritakan filmnya, karena objek penelitiannya berasal dari visual dan skripnya. Saya tetap menyarankan pembaca untuk menonton filmnya walaupun banyak pemberitaan miring seputar film kali ini.]

Poster Image

Ghost in the Shell adalah manga karya Masamune Shirow pada tahun 1989. Bercerita tentang sebuah masa dimana batas antara manusia dan robot sudah menjadi kabur. Manusia dapat melampaui kemampuan fisiknya dengan menambahkan peralatan robotik ditubuhnya. Tokoh utama serial ini, Motoko Kusanagi adalah manusia —dimasa lampau— yang otaknya berada di dalam “Shell”, sebuah wadah sintetis berwujud manusia dengan kapasitas lebih dari manusia. Saya kira setiap penggemar animasi Jepang sudah menjadi penikmat kasual sudah membaca dan menonton —atau setidaknya mengetahui— serial ini, jadi tidak perlu lebih panjang lagi saya jelaskan. Yang lebih penting adalah adanya adaptasi terbaru Hollywood yang fenomenal dan menjadi tren untuk dibahas karena adanya tudingan Whitewashing.

Whitewashing menurut Wikipedia adalah ketika aktor kulit putih memainkan karakter ras lainnya. Fenomena Whitewashing pada anime sudah sering terjadi, terlihat pada banyak karya Hollywood misalnya seperti Dragon Ball Evolution, The Last Airbender dan tentu saja, Ghost in the Shell. Rupanya fenomena ini menuai kecaman dari berbagai kelompok masyarakat, khususnya otaku. Dikalangan otaku Indonesia banyak sekali kritik yang menyatakan bahwa Ghost in the Shell dihancurkan oleh Hollywood demi sebuah niche, yakni identitas dominan masyarakat Amerika sendiri dengan membuat karakternya dibintangi oleh aktris kulit putih. Banyak juga kekesalan dilontarkan mengenai nama dari Major Motoko Kusanagi yang berubah menjadi Major Mira Killian (hanya karena dia adalah keajaiban, tentu saja) saat trailer sudah beredar di Internet.

Ghost in the Shell versi adaptasi sutradara Rupert Sanders dalam penilaian pribadi saya bukanlah sebuah karya yang buruk, hanya bila dilihat sebagai spinoff dari versi aslinya. Storytelling yang sangat sederhana, penjelasan mengenai apa itu shell dengan sangat mudah dijelaskan pada bagian pertama film. Cerita yang berbeda dengan sumber aslinya membuat banyak penonton kecewa, karena besar harapan para penggemar agar ia dapat bercerita seperti sumber aslinya. Dan hal itu tidak terwujud.

Tidak seperti versi anime layar lebar karya Mamoru Oshii, Ghost in the Shell versi Hollywood bercerita banyak seputar masa lalu Major. Dihantui oleh amnesia, Major yang tidak ingat tentang masa lalunya menjadi gundah. Konflik dari versi anime dengan versi Hollywood juga berbeda. Anime bercerita tentang Puppetmaster dan Major yang mempertanyakan banyak hal tentang eksistensi, sedangkan konflik versi Hollywood dimulai dari pernyataan Kuze mengenai tindakan Hanka Robotics yang melakukan praktek cangkok otak Mira, “Everything they told you, was a lie. They did not save your life, they stole it”.

Kuze

“Mereka tidak menyelamatkanmu, mereka mencuri kehidupanmu”

Hiperrealitas dan Sejarah

Amnesia Major Mira dijelaskan sejak bagian pertama film, dikatakan oleh Dr. Ouelet, sang perancang Shell Mira bahwa Mira menjadi korban terorisme yang tewas di kapal saat sedang dalam perjalanan mengungsi di lautan. Namun dipertengahan film dijelaskan bahwa Mira tidak hilang ingatan dan tidak diserang oleh teroris, melainkan diambil dan dihapus secara paksa oleh Hanka Robotics. Sebuah ingatan baru diciptakan oleh Hanka Robotics untuk Mira.

Ingatan baru buatan Hanka Robotics ini menjadi sebuah standar baru, ingatan baru. Membentuk pola pikir yang baru, kebencian pada terorisme misalnya. Hal ini terbukti dari perilaku Mira melawan serangan Kuze dan bahkan Mira sempat berkata, “that’s what I am built for” ketika berbicara soal perlawanan terhadap terorisme dengan Aramaki, ketua Section 9. Mira membawa sebuah pandangan baru yang mengikuti keinginan Mr. Cutter, pemilik Hanka Robotics. Dijelaskan bahwa Mr. Cutter memang membenci teroris dan berniat untuk menghabisinya. Ingatan palsu inilah yang menjadi permasalahan, Mira terjebak dalam realita palsu yang dibentuk oleh pihak berkuasa. Inilah hiperrealitas, yaitu ketika suatu hal —dalam hal ini, ingatan— yang tidak nyata menjadi sebuah kenyataan bagi seseorang.

Jean Baudrillard dalam teorinya tentang Masyarakat Konsumeris, Simulakra dan Simulasi menjelaskan bahwa manusia sering terjebak dalam hiperrealitas. Contoh sederhana dalam dunia kita sehari-hari adalah majalah fashion yang berhasil membentuk standar kecantikan dunia. Padahal foto-foto dalam majalah fashion adalah hasil kerja para desainer grafis; dalam arti, tidak ada yang seperti itu di dunia nyata tetapi diterima sebagai standar dalam kehidupan masyarakat nyata. Hasil dari pembentukan standar melalui hiperrealitas tadi membawa produsen dari pabrik-pabrik industri kecantikan menjadi penguasa yang menghasilkan dan mengatur masyarakat konsumeris. Maka akan relevan jadinya saat kita melihat kebenaran palsu yang ditanamkan dalam otak Mira sebagai instrumen kuasa Hanka Robotics.

Hal ini juga dikuatkan oleh teori Michel Foucault dalam bukunya, Arkeologi Pengetahuan (L’Archeologie du Savoir) yang berbicara soal pembentukan sejarah. Sejarah Indonesia yang sekarang atau telah kita pelajari di masa sekolah barangkali telah direvisi sesuai dengan kebutuhan penguasa yang saat itu memimpin dan perlu menjaga status kekuasaannya. Sangat relevan dengan Ghost in the Shell, apalagi bila kita ingat bahwa Hanka Robotics merupakan perusahaan paling berpengaruh dalam pemerintahan.

Represi pada Anarkisme dan Penguasaan Hak Pribadi

Dr. Ouelet berkali-kali berkata pada Mr. Cutter dalam film ini, “You are making her more like a machine”, dan selalu ditanggapi, “She’s not a machine, she’s a weapon”. Namun sebuah senjata tidaklah berarti bila tiada yang menarik pelatuknya. Dalam perkataan Mr. Cutter sejak awal, jelas-jelas diungkapkan bahwa Mira adalah pihak yang dikuasai oleh Hanka Robotics. Bahkan medikasi yang dilangsungkan oleh Mira setiap hari difungsikan sebagai kontrol Hanka pada tubuh dan jiwa Mira.

Dr. Ouelet

Dr. Ouelet: “You are making her more like a machine”

Mira dalam perjalanan cerita —setelah menghentikan pengobatan, menemukan keping masa lalunya yang merupakan seorang peranakan Jepang bernama Motoko, yang membenci aturan, menulis manifestonya tentang bagaimana teknologi —yang dikuasai Hanka, tentu saja— merusak masa depan dan bahkan memilih untuk hidup bersama komunitas anti pemerintahan bersama Hideo (Kuze). Menarik sekali untuk mengamati kenapa Hanka berakhir mengambil Hideo dan Motoko menjadi bahan eksperimen, kenapa Hanka mengambil orang-orang yang anti kuasa menjadi pertanyaan serius.

Bicara soal anti kuasa, pertanyaan soal memberi izin tentang privasi dalam film ini cukup sering dilontarkan. Misalnya ketika Dr. Ouelet hendak menghapus Glitch —yang sebenarnya adalah ingatan asli Motoko— yang muncul dalam penglihatan Mira. Walaupun memang pada akhirnya dijelaskan bahwa Hanka tidak peduli dengan izin tentang privasi, tetaplah sangat ironis bila kita hubungkan. Hanka yang selalu menanyakan izin untuk privasi, tetapi juga mengambil otak dan ingatan tanpa izin dari pihak-pihak yang terlibat. Inilah bukti bahwa tendensi kuasa adalah tidak adanya penghargaan individual.

Saya sangat tertarik dan bahkan tertawa saat Aramaki menanyakan pada Mira, “apakah aku memiliki izinmu?” saat ia akan membunuh Mr. Cutter. Seolah-olah Aramaki sedang memarodikan tindakan Hanka pada pihak jajahannya. Karena bagaimanapun juga, Aramaki akan membunuh Mr. Cutter ada maupun tanpa izin dari Mira.

Revolvernya enam peluru, tapi bisa menembak sembilan kali tanpa reload

Aramaki dan revolvernya

Privilese Pengikut Penguasa dan Kontrol Keteraturan

Saat Mira bertanya soal berapa orang yang menjadi bahan eksperimen sebelum dia, Dr. Ouelet mengatakan ada 98 orang. Mira dengan terus terang mengatakan bahwa itu adalah pembunuhan, tetapi dibantah dengan argumen, “You won’t be here without sacrifices”. Apabila Mira terus mengikuti perintah Hanka, maka ia akan selamat. Ini adalah privilese para pengikut penguasa. Mira bisa memilih untuk berpartisipasi dalam keamanan dan keteraturan dibawah penguasa. Namun pada akhirnya, Mr. Cutter meminta Dr. Ouelet untuk membuang Mira karena ia tidak bisa diatur.

Aspek Semiologis Warna

Saya tidak akan berpanjang lebar membahas soal ini, tetapi warna matahari cerah dalam film Ghost in the Shell versi Hollywood hanya tampak diawal, saat Mira belum menyadari kepalsuan dalam dirinya dan diakhir, ketika penguasa telah mati.

Relevansi Simbol dan Alasan Mengapa Whitewashing Menjadi Layak Untuk Diapresiasi

Begitu banyak tanda tentang kepalsuan sebagai standard dan kebenaran dalam hidup digambarkan dalam film ini. Terlebih lagi, kemampuan untuk memanipulasi menjadikan seseorang ingin mengatur orang lain. Film Ghost in the Shell adalah kritik pedas terhadap Kuasa, yang dalam hal ini menggunakan hiperrealitas sebagai instrumen kuasanya.

Saat ini bangsa kulit putih, Amerika khususnya sedang melawan terorisme. Film Ghost in the Shell seolah mencoba mengkritik perilaku kaum Authoritarian Amerika. Ditambah lagi dengan kalimat yang diucapkan oleh Mira diakhir filmnya, “humanity is my virtue”, seperti sedang mengatakan bahwa America is lacking of humanity. Inilah mengapa saya mengapresiasi whitewashing dalam film ini. Karena menjadi lebih tepat jika whitewashing dilakukan kalau memang targetnya adalah bangsa mereka sendiri, walaupun saya sendiri juga lebih suka kalau orangnya asli Jepang saja. Tapi preferensi boleh nomor dua, kan?

Referensi

Haryatmoko (2016). Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis. Yogyakarta: Kanisius.

Foucault, M. (2002). Arkeologi Pengetahuan. Yogyakarta: Kalam.

Ditulis oleh utuluu, disunting oleh adriennemarsh

In Case You Missed It...