March 23, 2017 — 42 views

[LiveView] – Kumiko, The Treasure Hunter (2015)

“This is a true story.”
– Fargo (1996)

Berburu harta karun adalah satu-satunya pelarian Kumiko, yang dilanda krisis kehidupan sosial di lingkungannya. Tekanan dari atasannya untuk segera mengundurkan diri karena umurnya yang sudah jauh melebihi batas umur rata-rata seorang Office Lady, dan ancaman ibunya yang selalu mendesaknya agar segera menikah harus ditelannya hingga muak.

Hingga suatu saat, di waktu Kumiko melihat sebuah kotak uang yang dikubur seorang lelaki kulit putih ke dalam tumpukan salju dari VHS penemuan terakhirnya dari suatu pantai di Jepang. Kumiko memutuskan untuk mencari pagar tempat dikuburnya peti itu sebagai tujuan selanjutnya, demi lari dari semua kejenuhan dan tekanan yang kini mencapai batas yang bisa ditopangnya. Kabur jauh dari Tokyo sampai ke Amerika.

Karena tentu saja Fargo yang ditayangkan VHS itu adalah kota yang nyata, bukan?

Diangkat dari sebuah legenda yang mengitari sekilas berita tentang kematian seorang perempuan Jepang yang ditemukan di Minnesota (Amerika-Kanada), Kumiko The Treasure Hunter adalah sebuah film yang SANGAT melankolis. David Zellner maupun Nathan Zellner sebagai Sutradara-Penulis sengaja tak memperhatikan kisah sebenarnya atas legenda ini demi menangkap idealisme dari cerita ‘Seorang perempuan yang jauh-jauh dari Tokyo sampai kemari gara-gara mencari harta karun dari sebuah film lama.’, dan jelas sekali konsep ini diseriusi dengan dukungan akting yang brilian dari Rinko Kikuchi (Pacific Rim. Not quite a stunt casting, but yes.).

Sepanjang 105 menit, film yang mengambil setting kedua belah negara ini sangat mengandalkan atmosfir di sekitarnya seperti Lost in Translation (2003) dan mampu menangkal segala ekspektasi ‘seru’ ataupun ‘haru’ yang wajarnya dicari baik dalam drama ringan ataupun berat. Ya, film ini seratus persen sadar akan pengaruhnya yang menjatuhkan, dan sengaja mempertahankannya demi menyampaikan pesan tak menyenangkan dari pelarian Kumiko.

Perpisahan dengan Bunzo ialah pernyataan minta tolong terakhir dari Kumiko

Kadang berbagai kelucuan sepintas dari tindak bingung Kumiko maupun dari ketidakpekaan (yang kita tolerir dengan luar biasanya) di sekitarnya dimatikan dengan cerita yang sepenuhnya mengambil sudut pandang wanita itu. Dengan ‘kepolosan’ seorang Kumiko, yang berbeda dengan citra dan tujuan si wanita sebenarnya Takako Konishi mencerminkan sisi idealis dari penulis yang ingin menegaskan bahwa ini hanya sebuah kisah fiktif. Tapi Fargo juga sebuah film, lantas apakah hal ini membuatnya bertambah optimis?

Dengan musik bernuansa ‘hampa’ yang disajikan di sepanjang film dan satu-satunya musik bernuansa cerah di PALING akhir oleh The Octopus Project, tak sekalipun kita diajak untuk mendukung perjalanan sia-sia Kumiko karena bukan tujuan akhir yang ingin ditunjukkan oleh film ini. Kita bukan diajak untuk ikut terharu maupun berempati dalam Kumiko. Lebih dari itu, Kumiko The Treasure Hunter seperti ingin membawa kita untuk ikut muak dalam kegelisahan yang dipancarkannya dan kabur ke dalam penolakan atas tuntutan realita. Lagu di akhir film Kumiko mirip seperti lagu penjemputan Putri Kaguya di Kaguya Hime Monogatari (Ghibli, 2013), seperti kemilau cerah yang memaksa menjemput rasa tidak nyaman ini tanpa ampun.

Adapun baiknya film ini tidak disarankan untuk ditonton ramai-ramai karena memberi kesan sangat pribadi seperti film garapan sineas Jepang, All About Lily Chou-Chou (Shunji Iwai, 2001). Bahkan akhir alternatif yang disuguhkan di akhir film hanya disajikan sebagai pengalih perhatian akan kisah sebenarnya yang sudah tamat tak sampai sepuluh menit sebelumnya. Seperti film yang saya rekomendasikan barusan, film ini juga adalah perjalanan pribadi saya yang membawa saya merenung alih-alih menangis.

Catatan Pribadi:

Secara pribadi, saya menyenangi gaya penceritaan seperti ini dalam kisah-kisah drama. Saya sangat menyayangkan nasib film ini yang masih belum menyentuh bioskop lokal. Namun faktor ‘seru’ dan ‘menggugah hati’ selalu menang kalau berbicara soal film yang layak ditayangkan kemari.

Lantas, apakah film melankolis yang mampu membuat penontonnya tak bisa menjelaskan campur aduk emosi diluar ‘haru’ ini akan selalu di-anaktirikan? Apakah ‘kami nonton buat ngerasa seneng.’ harus harga mati?

Terakhir, bagian pertengahan tak saya ungkap sama sekali karena tepatnya hal itu yang ingin saya tunjukkan saat merekomendasikan film ini. Kalau tujuan akhirnya kita sudah tahu, justru perjalanannya yang paling penting untuk dinikmati.

In Case You Missed It...