June 3, 2016 — 850 views

[Review] Oshiete! Galko-chan dan Bagaimana Seharusnya Stereotip Karakter Anime Digunakan

Walaupun Anime season ini sudah mencapai episode 9 atau 10.
tidak ada salahnya jika membahas tentang anime yang bisa dibilang cukup underrated pada season winter kemarin.

Oshiete! Galko-chan merupakan anime pendek produksi Studio FEEL berdasar dari manga yang judul yang sama.
Anime ini, menceritakan Galko, Otako dan Ojou yang merupakan teman sekelas. Pembicaraan mereka berkisar pada
mitos-mitos tentang seks, tubuh manusia, masalah perkembangan remaja pada umumnya dikemas dalam dialog dan visual
komedi dengan bumbu fanservice yang menarik.


Dari kiri : Galko, Ojou dan Otako

Tapi bukan itu yang ingin saya bahas tentang anime ini.
Tentu saja, banyak pembahasan dari anime Galko-chan yang menarik, dan bisa dibilang cukup menambah pengetahuan walaupun anime ini bergenre komedi.
Namun, ada satu hal yang sangat terasa dan bisa dibilang mendasari keseluruhan anime ini, satu hal yang jarang bisa ditemui di anime-anime lain,
baik yang sejenis maupun yang berbeda genre nya.

Mari kita mulai dari sebuah tebak-tebakan antara sifat dan hubungannya bagaimana karakter anime direpresentasikan.

Rambut pendek, dada kecil, tubuh langsing. Pendiam, pintar, independen.

Rambut panjang, dada besar, tubuh sedang. Kuat, elegan, mandiri.

Rambut blonde, drill, dada besar. Ojou sama, ho ho ho, kekayaan yang tidak masuk akal.
dan lainnya


Berapa banyak karakter yang mirip Luvia-sama

Tentu saja, visual karakter sangat penting dalam menggambarkan bagaimana karakter itu akan berperan dalam cerita. Penonton butuh sebuah pegangan
bagaimana seorang karakter akan bertingkah laku, bagaimana keadaan latar karakter tersebut, dan interaksinya ke karakter lain. Namun, ciri karakter
ini semakin lama digunakan terus menerus dalam berbagai judul anime, dan melahirkan karakter demi karakter yang memiliki ciri ciri visual yang sama
dan sifat yang hampir sama juga. Proses ini berlanjut hingga saat ini sehingga menimbulkan stereotip yang familiar.

Redundansi stereotip tersebut membuat penonton bisa menebak apa yang akan dilakukan karakter tersebut,
bagaimana karakter tersebut akan berperan dalam cerita kedepannya, hanya dengan melihat nya sekilas saja. Tebakan itu akan selalu ada, walaupun
cerita yang ditawarkan kadang sangat berbeda dan menarik.

Banyak juga karakter yang cukup baik dengan stereotip nya sendiri, tetapi setelah masa tayangnya karakter ini berubah
menjadi contoh bagaimana pengeksekusian karakterisasi yang baik, karakter ini menjadi salah satu bagian dari bagian besar karakter yang bersifat sama
berpenampilan visual yang mirip. Karakter-karakter ini kehilangan identitas unik mereka dan menjadi sangat mudah dilupakan ketika ada karakter baru yang
kurang lebih sama dengan mereka dengan berbagai kelebihan fisik, maupun kemampuan yang tidak dimiliki karakter pendahulunya.

Menyikapi hal ini biasanya seorang karakter memiliki moe gap
atau yang bisa dibilang dalam kondisi tertentu akan bersikap berkebalikan dengan karakter mereka. Seorang gadis yang kuat ketika dalam
kondisi tertekan ternyata berkebalikan dan meluapkan emosinya. Tapi moe gap ini juga lama kelamaan juga berulang dan malah berubah menjadi sifat
yang akan dimiliki seorang karakter yang mudah ditebak.


Cliche karakter kuat yang namun berjiwa lemah ketika putus asa.

Dan disini Galko-chan memberikan contoh yang baik tentang penggunaan stereotip.

Galko sang tokoh utama, merupakan seorang gal atau gyaru. Dia memiliki tubuh yang seksi, berpenampilan seperti gyaru dan bertingkah
seperti gyaru. Tapi uniknya, Galko memiliki sifat yang berkebalikan dengan penampilannya, ia berhati yang bersih, malu jika membicarakan hal hal mesum,
menyukai film dan anime dan bahkan cita cita nya menjadi seorang
ibu rumah tangga yang baik. Membuat karakter Galko unik dan berbeda dengan karakter gal pada umumnya.
Bahkan, perbedaan sifat dan penampilan Galko, sering membuatnya dalam keadaan dipersepsikan berbeda dan mesum oleh teman-teman sekelasnya,
walau realitanya sangat jauh berbeda. Seakan akan mengolok-olok bagaimana stereotip gal digambarkan.

Pasti pulang pagi habis nge dugem.


Aslinya sih begadang nonton anime doang.

Otako, teman baik Galko meupakan seorang otaku anime dan buku. Apakah dia digambarkan sebagai pendiam, dengan pengetahuan yang luas? Ya dan tidak
walau memiliki ciri ciri berkacamata, berdada rata, dan berambut pendek. Dalam 12 episode anime jarang sekali Otako berdiam diri, ia lebih sering
menggoda galko dengan pengetahuan dan trivia mesum nya, ia juga aktif dan hangat jika diajak bicara oleh orang lain. Dan sekali lagi, berbeda dengan stereotype otaku di anime.


Pemandangan langka riajuu mengobrol dengan si dengan kutu buku.


Otako menikmati obrolannya dengan Galko, otaku bukan berarti harus pendiam.

Ojou, berasal dari keluarga kaya raya, dan memiliki sifat riang dan sering tidak bisa menangkap suasana atau pembicaraan yang dilakukan Galko atau Ojou.
Namun, ia Tidak selalu digambarkan sama setiap saat, ia dapat bersikap
selayaknya teman yang memberikan nasihat, atau malu jika ia membuat kesalahan. Membuatnya masih terasa seperti gadis normal biasa.


Ojou yang menyadari saat ia salah mengartikan pembicaraan Galko dan Otako.


Walau kadang tidak menangkap suasana, Ojou mengerti jika teman-temannya nya berada dalam masalah.

Tidak hanya karakter utama, beberapa karakter pendukung dalam anime ini pun memiliki sifat dan interest yang berbeda-beda walau kadang bertolak belakang dengan
stereotip nya masing masing. Gadis gemuk yang merupakan top futsal wanita. Tiga pejantan tanggung yang walaupun berbeda sifat dan kepribadian bisa menjadi teman baik.
perbedaan-perbedaan ini yang menghilangkan hitam dan putih sifat-sifat setiap karakter dan menjadikannya gradien. Yang membuat karakter-karakter ini bisa merepresentasikan
orang-orang di dunia nyata yang sama seperti karakter di Galko-chan, tidak dapat dinilai hanya dengan penampilan nya saja.


Jadi teringat karakter game yang lagi rame itu ya ……..


Berbeda sifat dan hobi, namun pada dasarnya semua lelaki memiliki satu kesamaan.

Dan karakter-karakter ini menjadi sangat menarik. Setiap interaksi karakter dengan karakter lain terasa berbeda, dan tanpa sadar penonton menjadi menginginkan bagaimana karakter-karakter
tersebut berinteraksi dalam situasi yang berbeda karena karena hilangnya tebakan-tebakan bagaimana karakter itu akan bersikap. Membuat setiap interaksi karakter di anime ini
terasa baru dan menyenangkan untuk ditonton. Menguatkan inti dari anime ini yang mengutamakan interaksi dan reaksi karakter daripada jalan cerita yang rumit.

Penggambaran karakter dan pembeda setiap karakter penting namun penggunaannya yang berulang membuat karakter membosankan dan mudah dilupakan.
Galko-chan, walaupun meminjam stereoptip karakter untuk setiap karakternya, memberi mereka sifat dan kesukaan yang berbeda dengan penampilan mereka namun masih masuk akal
dan tidak bertolak belakang sepenuhnya. Dan ya, Galko-chan tidak berusaha membuat karakter menjadi mirip dunia nyata seperti Shirobako, atapun Oregairu. Dan juga tidak memberikan
karakter mereka sifat yang begitu bertolak belakang seperti di Konosuba. Namun memberikan setiap karakternya cukup perbedaan yang membuat karakter-karakter itu menarik dan tidak mudah ditebak, walau masih menggunakan
elemen-elemen stereotip karakter anime pada umumnya.


Sampai jumpa season depan!

In Case You Missed It...