October 4, 2015 — 3906 views

Charlotte dan Ekspektasi yang Berlebihan

Setelah menonton episode terakhir Charlotte, saya merasa banyak yang mengganjal. Namun yang paling kentara adalah soal endingnya. Mungkin kalian yang sudah menonton Charlotte sampai tamat juga merasakan hal yang sama. Ya, ending yang mengecewakan dan membuat anda berpikir: “Udah gitu aja?”

Dalam episode terakhir, diceritakan Yu berkeliling dunia untuk mengambil semua kekuatan dari ability user di seluruh dunia. Tujuannya adalah agar tidak ada lagi ability user di dunia. Setelah mengambil banyak kekuatan, Yu mulai merasakan perubahan dalam dirinya. Yu sebenarnya sudah mengetahui bahwa itu adalah resiko jika mengambil terlalu banyak kekuatan. Namun ia tidak punya pilihan lain, karena hanya dirinya lah yang bisa melakukan tugas itu.

Yu terus melanjutkan tugasnya mengambil bermacam-macam kekuatan dari orang-orang di seluruh dunia, sampai ia mendapat julukan Shinigami Bermata Satu (yang dia anggap memalukan). Yu mulai kehilangan ingatannya dan menjadi gila. Ia sempat berpikir untuk berhenti melakukan tugasnya dan menguasai dunia (bahkan ia menganggap dirinya dewa). Satu-satunya yang menyelamatkan dia adalah barang yang diberikan Nao sebelum dia memulai perjalanannya.

Singkat cerita, Yu berhasil mengambil seluruh kekuatan yang ada di dunia. Ia pun dibawa kembali ke Jepang oleh kakaknya. Saat ia bangun, ia berada di rumah sakit, dengan Nao berada di sisinya.

Sayangnya, Yu kehilangan ingatannya dan tidak ingat tentang Nao. Nao pun memperkenalkan dirinya sebagai pacar Yu. Ia pun menjelaskan bahwa dia lah yang membuat catatan terjemahan yang selalu dibawa Yu dan menjadi penyelamatnya saat ia mulai menjadi gila.

Yu pun kembali bertemu dengan teman-temannya, dan mereka bertekad untuk mengisi hari-hari mereka agar menjadi kenangan yang menyenangkan di masa depan.

Tamat. Iya, tamat.

Untuk sebuah cerita yang sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar, ending ini terkesan biasa saja dan terlalu dipaksakan. Tidak ada momen klimaks khas sebuah episode terakhir, atau momen-momen mengharukan seperti ending Angel Beats (anime yang sering dikaitkan dengan Charlotte). Atau itu karena kita yang terlalu berharap bahwa Charlotte akan menjadi anime feels seperti Angel Beats yang endingnya bisa membuat penontonnya menangis tersedu-sedu? Mungkin saja. Dengan kata lain, Charlotte gagal memberikan ending sesuai yang diharapkan karena ekspektasi berlebihan yang dibebankan pada anime ini sejak awal.

Faktor utama yang membuat Charlotte dikaitkan dengan Angel Beats adalah karena penulis dan studio yang sama, yaitu Jun Maeda dan P.A Works. Sejak pertama pengumuman animenya pun, para fans sudah mulai membuat ekspektasi bahwa Charlotte akan menjadi anime dengan cerita yang epic dan bisa membuat penontonnya menaiki roller coaster feels. Saat animenya tayang pun, adegan-adegan seperti masa lalu Nao dan kakaknya, kematian Ayumi, Yu yang menjadi gila, kejadian sebenarnya yang diceritakan oleh Shunsuke, dan kematian Kumagami menjadi momen-momen epic yang membuat fans berharap bahwa endingnya akan menjadi momen paling epic dalam anime ini, melebihi momen-momen yang sudah disebutkan sebelumnya.

Namun apa yang terjadi? Tidak ada momen epic yang terjadi di episode terakhir. Episode terakhir terkesan datar. Bahkan tidak ada adegan pertarungan yang seru. Selain itu, Yu yang kehilangan ingatan pun tidak ingat tentang Nao. Buyar sudah harapan fans yang mengharapkan akan adanya adegan romantis dalam reuni kedua karakter ini

Terlepas dari itu, Charlotte jelas mempunyai kualitas yang cukup untuk disebut sebagai salah satu anime terbaik pada tahun 2015 ini. Tapi apakah pantas disebut sebagai yang terbaik? Mungkin tidak.

Yang jelas, Charlotte merupakan anime yang sangat layak untuk ditonton. Saya pun tidak ragu untuk merekomendasikannya kepada mereka yang belum menontonnya. Namun saya akan mengingatkan mereka untuk tidak mengharapkan ending yang mengesankan atau adegan romantis yang menghangatkan hati dari anime ini.

In Case You Missed It...