July 25, 2015 — 1655 views

[Verdict] Shonen Fight


Judul alternatif: Dua Mas-Mas Ngomel Tentang Shonen Fight

Artikel ini disponsori oleh kafein, insomnia, dan ngabisin waktu karena sahur masih 4 jam lagi. Warning: Spoiler, inappropriate language, blisteringly unhelpful and misrepresentative picture et cetera, et cetera.

Kaptain: Shonen Fight, Dirilis Juni kemarin dengan harga 50.000 IDR (Atau gratis gara-gara salah alamat kirim)
Majalah komik genre “Shonen” dwibulanan dengan 10 karya yang rata-rata makan 26 halaman, standar buat komik bulanan.
Tagline: “We’re Totally Legit”,
Kira-kira maksudnya apa ya mas?

Bambang:
Kalau bicara “legit” jelas maksudnya “yang benar”
jujur, saya belum tau persis maksud asli taglinenya. Tapi kalau dibilang “Majalah komik (Terutama manga Jepang) yang benar2 majalah komik”, ya memang benar.

Kaptain: Sini dapetnya “Komik ini legal dan sama sekali nggak diolesi anthrax. Kalaupun iya obat penawarnya bisa didapat setelah transfer uang ke rekening-“

Bambang: Hahahahahah,
yang jelas sih, ini memang majalah komik
setidaknya bukan majalah porno dsb.

Kaptain: Kapan dan dimana denger pertama kali Shonen Fight?

Bambang: Euh…. newsfeed facebook…?
karena kalo rajin ngikutin komikus2 online lokal, musti ada aja berita macem event atau yang beginian nongol. Jadi begitulah….

Kaptain: Pertama kali liat dari Pasar Komik Bandung. Pas itu udah dibuka preordernya.
“Impresi Pertama: Komik Shonen yang ada K. Jati didalemnya”
Untung ndak ngambil preorder.

Bambang: Ya itu emang bejonya kamu.

Kaptain: Ujung-ujungnya dapet gratisan.

Bambang: Coba saya nunda beli 3-4 hari, mungkin saya yang dapet gratisan.

Kaptain: Dan cara terbaik mengapresiasi barang gratis adalah dengan mengomelinya di internet. Itu tujuan commentary hari ini. Masuk ke story pertama kita punya…

Ghost Loan by Mimi N

Kaptain: Impresi dari halaman pertama?

Bambang: “Kayaknya komik lawak”
yang 1 detik kemudian langsung banting setir jadi “Ini bukan buat <15 tahun”

Kaptain: Ghost Loan = Hutang Hantu,
bisa juga “Pinjaman Hantu”

Bambang: Saya malah mikirnya “Rentenir Hantu”
soalnya, pinjaman itu ujung2nya nyangkut sama “rentenir” dan “debt collector”

Kaptain: Dari halaman pertama bisa dilihat kalau karakter utamanya masuk ke golongan “Business-Minded People”.
Kalau sini disuruh buat cerita dari satu halaman dan dari judulnya aja ceritanya bakal tentang orang yang bertanggung jawab buat negosiasi dan ngejual kontrak hutang untuk setan & siluman,
begitu juga untuk nagih kredit macet.

Bambang: Kelihatannya kita sepikiran untuk yang satu itu.

Kaptain: Bayangin aja adegan semacam ngecek business plan Tuyul Inc. buat ngasih pinjaman bisnis atau nyita peliharaannya Lucifer buat jaminan.

Bambang: Hahahah, bahkan kita sepikiran untuk pake istilah “tuyul”
dan ya, kesannya memang karakter utama pengen berbisnis dan kaya di dunia, tapi entah kenapa justru kecemplung di bisnis dunia arwah / gaib
itu sih, yang kepikiran waktu mbaca halaman pertama.

Kaptain: Dan yang kita dapat, Action Shounen Standar.

Bambang: Sangat standar,
bahkan bisa dibilang “By the book Action Shonen”

Kaptain: Agaknya plot kedepannya bakal ” Hajar Monster of the Week sampe Utang Lunas”

Bambang: Secara umum, ya, kelihatannya bakal seperti itu
berharap saja ada pengembangan plot dan berkembang tidak hanya “hutang nyawa” dan “berburu monster buat bayar hutang”

Kaptain: Jadi Verdict untuk Ghost Loan?

Bambang: Lebih menarik kalau tentang “Bisnis sewa tuyul atau kuntilanak/10″
Sekedar untuk catatan sampingan, Ghost Loan bisa jadi judul paling “rapih” dan mendekati “sempurna” untuk standar shonen manga jepang
di majalah ini.

Kaptain: Sempurna dalam konteks “By the book” banget?

Bambang: Yap. Perlu sedikit pengembangan di koreografi action-nya juga sih sebenernya. soalnya terkesan kurang berisi dan “lompat-lompat” antar scene.

Kaptain: “Need More Businesswoman in Pantsuit/10″
Sama kayak njenengan. Konsepnya memang standar, untuk eksekusinya sejauh ini mencukupi.

Jakanova by MAGE


Kaptain: Dari author note, katanya terinspirasi dari Phoenix Wright.
Untuk karya shonen, mayoritas cast-nya dewasa semua.

Bambang: Ya. Isu yang diangkat pun juga kelihatannya bakal bertema dewasa
bisa dibayangkan demografi yang senang membacanya mungkin kaum pekerja muda dan seumuran mahasiswa.

Kaptain: Salah satu dialog karakter “Saya nggak suka media massa”. Keluhan yang luar biasa valid untuk kualitas Media Nasional secara umum.

Bambang: Kalo menurut pribadi sih, sebenernya itu lebih mengacu ke media massa pada umumnya, seperti para pencari berita biasa dianggap seperti “Hyena-hyena kelaparan”

Kaptain: “Hyena kelaparan yang cuma doyan tragedi yang menjual”

Bambang: Ya, seperti itu
hanya saja, agak bikin mengernyitkan dahi di sini di mana kelihatannya media tempat kerja karaker utama digambarkan idealis. yang mana itu nyaris mustahil di dunia nyata.

Kaptain: Itulah genre Shonen. Settingnya sih dah jelas Modern Kontemporer. Dan ngelihat track record nasional dalam mberesin masalah, agaknya masalahnya bakal tetap jadi topikal untuk waktu lama.

Jadi verdict? Masuk ke golongan karya yang diatas rata-rata. Konsep dan Eksekusi bagus. Kalau bener-bener terinspirasi dari Phoenix Wright, “Need More Silly Hats and Hair/10″

Bambang: Hahahahah
yah, di luar dia terinspirasi Phoenix Wright atau tidak, yang mana saya juga baru tahu, karyanya sendiri sangat rapih dan tidak kaku. Butuh lebih banyak background setting tapi, biar lebih terasa situasi ceritanya seperti apa.

Ceritanya “terlalu damai” sih. perlu ditambah rempah-rempah biar agak “pedas”
dan sekedar klarifikasi, maksudnya “background setting lokasi”. soalnya itu mendadak hilang di setengah chapter terakhir
jadi bingung soalnya skala demo dan kampung tempat demonya kaya apa. Kok mendadak gak detil.

Kaptain: Ceritanya mau kayak gimana? Macem akuisisi desa lewat invasi siluman? Ngeliput pembunuhan yang pelakunya paus? Wawancara ke Burung Kakatua?
Ya. Semua kejadian diatas terjadi di Phoenix Wright.

Bambang: Hahahahah, ya, itu boleh juga. Kurang seru rasanya kalo semua terlalu idealistik.
my verdict: “Need Evil Editor-In-Chief/10″

Jeenie by Dani Kuswan

Kaptain: Impresi: Sinetron Indosiar banget

Bambang: HAHAHAHAHAHAH

Kaptain: Bentar, Jinnie oh Jinnie dulu di RCTI ya?

Bambang: Yap.
tapi Jinnie oh Jinnie gak sejelek ini sih.

Kaptain: Ouch.

Langsung aja masuk Verdict: Kurang lebih komik konsep standar yang eksekusinya subpar banget.
atau lebih tepatnya: “Sinetron banget”

Bambang: Setuju banget.
My verdict: Sinetron Indonesia Dibuat Komik/10

Kaptain: Berani taruhan, di chapter selanjutnya sang heroine bakal udah nginep dirumah sang protag.
dan lanjut ke scene “INI SEMUA SALAH PAHAM”.
Cuma kurang adegan nyanyi dengan subtitle karaoke
dan efek 3D pas-pasan.

Bambang: HAHAHAHAHAHAH
bentar, verdictnya saya ganti
“Kurang Efek Cymbal/10″

Kaptain: Verdict: “Kurang extreme close up/10″

iNheritage by Mukhlis Nur

Kaptain: Untuk yang ini, ceritanya sebenernya bagian dari IP yang lebih besar.
Dulu pernah nyoba gamenya di pameran. Standar SHMUP game. Di iTunes ada kalau mau nyoba.

Bambang: Sudah ada IPnya sendiri toh? kirain original

Kaptain: Cast standar “Suffering Teenager”. Lokasi di Bandung, yang di setting ini pernah dihancurkan monster
Sayangnya efek serangannya cuma kelihatan di castnya dan nggak kelihatan di Bandungnya sendiri.
Ngelihat progresi ceritanya, kemungkinan besar castnya bakal dapet superpower dari “Standard issue mysterious transfer student”

Bambang: Atau sewaktu kejadian “Day Zero” sebenernya sudah dapet kekuatan, tapi masih tertidur.
Bisa ditebak lah arah ceritanya.

Tapi harus diakui sih, atmosfirnya paling bagus di antara semua karya yang lainnya.

Kaptain: Iya. Kualitas dan teknik art termasuk yang paling bagus di antara semua komik yang ada.

Bambang: Secara potensi, komik ini yang paling tinggi di antara semuanya
sisanya tergantung perkembangan dan eksekusinya saja

Kaptain: Pengalaman pribadi sih, sini seringkali dikecewain komik dengan tone dan tema kayak gini. Seringkali payoff dari build-up di awal cerita nggak sebanding. Semoga aja kali ini salah.
Verdict: “Really wish i’m wrong/10″

Bambang: Namanya kalau prasangka buruk salah itu memang selalu menyenangkan
di sini juga berharap gitu kok
my verdict: “Need More Sexy Glasses Girl/10″

Lost in Halmahera by Maulana Faris


Kaptain: Hah…
Cuma 4 halaman tapi komplain dari sini segunung.
Judul lebih tepat harusnya “Mildly Inconvenienced in a Place that are Supposedly Halmahera.”
Karena kalau ndak dibilanging ini di Halmahera sini bakal ngira ini di Parang Tritis, Pangandaran atau Kuta.

Bambang: Hahahahahah
gak usah seperti itu, cerita pertamanya saja sudah bukan Halmahera
ah sudahlah, sebut saja tempatnya Pulau Rote dan saya pasti percaya

Kaptain: Dosa terbesar karya ini adalah gagal menjawab kenapa saya harus peduli sama Halmahera, karena ceritanya sendiri aja nggak peduli.

Verdict: “I can’t believe this got past the Editor/10″

Bambang: Itu satu, dan kedua, dari halaman pertama sudah tidak jelas maunya bikin komik apa.
Petualangan, jelas bukan.
Komedi, sama sekali gak lucu.
Lawak, di mana lawaknya?

Dan jujur saja, sampai sekarang saya masih bingung siapa karakter utamanya dan kenapa kita harus peduli dengan mereka.

Kaptain: Jujur aja 4 halaman tuh kurang banget.

Bambang: Bahkan komik Bobo yang cuma 1 halaman per majalah jauh lebih informatif.

Kaptain: Ouch.

Bambang: Verdict: “This Is Not Legit/10″

Perennium by Kharisma Jati

Kaptain: Nyari arti Perennium. All of it involve ass somehow.

Bambang: Nah, yang ini agak bikin sakit kepala. Dalam banyak artian.

Kaptain: Dunia dikuasai Space Elf di abad ke-17. Then things get weird.
Setting Wise, mungkin ini karya favorit sini.

Bambang: Konsep dan penggambaran juga bagus, secara pribadi, bahkan banyak sekali yang bisa digali.
Sayang chapter pertama ini kurang cukup menggali, bahkan cenderung terlalu banyak lubang plot + lompat-lompat adegan

Pribadi juga berharap itu memang disengaja, merupakan bagian dari plotnya sendiri, dan baru dijelaskan belakangan. Meskipun melihat bonus komiknya, kok sedikit mengkhawatirkan…

Kaptain: KJati gitu loh

Bambang: Mungkin masalah di sini buat KJati, adalah kurangnya halaman komik buat dia sih
mungkin kalo ditambah 5-10 halaman, bisa buat lebih matengin chapter 1-nya.

Kaptain: Ekspektasi Optimis: Chapter selanjutnya bakal menjelaskan dan mengggali lebih banyak tentang cerita dan posisi sang karakter utama pada cerita.
Ekspektasi Realistik: Needlessly Convoluted Mess. Yang seringkali terjadi sama cerita yang melibatkan time/dimensional travel.

Bambang: Setuju

Kaptain: Jadi Verdict?

Bambang: Verdict: “Need More Pages/10″

Kaptain: “Masih lebih seneng Anak Kos Dodol/10″

Oh Blood! by Cessa


Kaptain: The Mandatory Fanservicey Shonen Magazine Manga. Pemegang potensi tertinggi dari semua komik menurut opini sini.

Bambang: Kalau pribadi, potensi ini komik masih di bawah Inheritage
tapi karena eksekusi dan presentasinya bagus, juga penggambaran scene-to-scene yang luwes, komik ini yang paling menarik di antara semua yang lain
dan pribadi, #1 favorite komik di SF.

Yang cukup menarik, justru di komik “fanservice” seperti ini yang chapter 1-nya paling kuat, matang, dan pengenalan karakternya paling baik. sebentar apapun nongolnya, karakternya langsung lengket di kepala.

Misteri dan “ada apa di balik ini semua” dari ceritanya pun muncul dengan baik dan alami, meskipun hanya secuil. Tapi setidaknya cukup untuk bikin penasaran pengen liat chapter berikutnya. Secara pribadi sudah gak sabar SF berikutnya buat ini doang

Kaptain: Konsep umum, eksekusi bagus, artstyle diatas rata-rata, writing style berkualitas dan menghibur.
Dan karya pertama yang dapet penilaian positif di semua aspek dari kita.
Selamat buat penulis.

Bambang: Selamat

Kaptain: Hadiah berupa payung cantik bisa diambil di Atlantis.
Pajak ditanggung pemenang

Bambang: Bisa juga minta diambilkan kolor Nyai Roro Kidul di Ombak Diving and Delivery Service
Verdict: “Masukkin Odds Dan Arung Juga Pls/10″

Kaptain: Verdict: “Absolutely Halal Fanservice/10″

Winternesia by Dewanto Izfah

Kaptain: Oh boy.

Bambang: Haduh, baru aja asik-asik…

Kaptain: What a way to start a impression.

Bambang: Jujur, pribadi sudah males mbuka halamannya lagi…

Kaptain: Masih ada Kalasandhi di ujung. Semangat mas.

Bambang: Iya sih, demi Kalasandhi.
Meskipun habis ini masih ada satu lagi…

Kaptain: Jakarta ditelan salju karena?. Penduduk yang tersisa mencoba bertahan hidup.
Dan ini kelihatan banget karya komersil pertama penulis.
Jujur aja kalau uneg-uneg dari sini ditumpahin keluar format artikel bakal berubah jadi kayak Cinemasins.

Bambang: Kalo sampe seperti itu, entah berapa sin points tiap panelnya ntar

Kaptain: Berhubung ini karya pendatang baru sini bakal ngampuni beberapa dosanya.
Kesan dari komik: Agaknya ceritanya dibuat oleh orang yang ngeliat kalau genre post-apocalyptic survival lagi nge-tren dan nyoba ngebuat karya sejenis.
Sayangnya effortnya cuma berhenti di “Nyoba”
Tone cerita berantakan, konflik awal melibatkan “badut”, setup konflik selanjutnya langsung maksa jadi serius.

Bambang: Bisa dibilang komik ini 1/3 lawak, 1/3 sumpah serapah, dan 1/3 kok-mendadak-sedih-dan-serius-gini
dan harap dicatat, 3 bagian itu nyambung dengan tiba-tiba secara maksa
sebelum ini kita berdua juga sudah sempet ngomongin masalah setting yang “Jakarta tapi kena salju abadi”. dan kita sementara sepakat berhenti pada “kelihatannya si pengarang juga tidak mengerti apa yang dia buat”

Kaptain: Sejauh ini alasan terbaik: Komik ini sequelnya Berandal.
Adegan pas Yayan Ruhiyan dibantai Cecep Rahman? Itu pertanda Jakarta dah mulai ditelan salju.

Bambang: Hahahahahahah
kalo pribadi, berharap ini direct sequel-nya true ending Drakengard.

Kaptain: Bring in the robot wizard and dead children then.

Bambang: Nier itu masih versi good route-nya. ini sudah masuk what-in-the-friggin’-frak route

Kaptain: Berhubung kita dah mulai ngebicarain series lain buat ngindarin ngomong Winternesia. saatnya ngasih Verdict

Bambang: Berhubung rusaknya ini komik mayoritas di tata bahasa, Verdict: “Belajar Bahasa Indonesia Lagi Sana/10″

Kaptain: Untuk karya dari “Rising Star”. Sini sepenuhnya nyalahin Editor karena nggak cukup ngasih quality control buat karya ini.
“Better Git Gud ASAP/10″

Rabbit Vault by Bebek Terbang

Kaptain: Agh

Bambang: Ergh, ayo bertahan satu lagi, demi Kalasandhi.

Kaptain: Karakter Touhou jadi Maling di Era Victoria.
Big Shock: She suck at it.

Bambang: “Era Victoria”. hanya itu setting yang saya bisa tangkap. dan tidak ada lagi
hal yang paling mengerikan di komik ini adalah kelihatannya hampir semua penduduknya hasil modifikasi genetis kloningan dari entah siapa, karena mukanya hampir sama semua.

Kaptain: Sameface syndrome

Bambang: Dan itu termasuk karakter utamanya sendiri. Mohon dicatat. karena biasanya karakter utama bisa beda, sementara figuran terserah mau sama semua mukanya atau nggak

Rasanya tidak butuh topeng buat jadi pencuri di situ. karena kamu bisa tiba-tiba berbaur dengan banyak orang, dan pengejarmu gak mungkin bisa nemuin kamu
selain itu, pengenalan tokoh, setting, cerita, dan serba-serbi isi komiknya itu pun nyaris nihil. sehingga susah untuk bisa nyantol, boro-boro menikmati ceritanya

Kaptain: Sekali lagi, komikus baru, editor baru, etc etc.
Setidaknya sini bakal nunjukin aspek positif seperti…
Hmm…
Ergh…
Judul ceritanya cukup kreatif?
Rabbit Vault, Tokoh utamanya pake galah untuk meningkatkan mobilitas.
Yang menunjukkan kalau sang karakter lebih cocok jadi kurir atau semacemnya.
Cara termudah buat memperbaiki storynya tuh ngebuat tiap pencurian memerlukan team effort.
Job sang karakter utama udah jelas jadi Bagman/woman

Berhubung di akhir cerita diperkenalkan juga karakter baru yang ngebantu dia, semoga aja ceritanya berkembang kesitu.

Bambang: Jujur aneh sih kalo ceritanya di awal2 si karakter utama itu pencuri terkenal, tapi langsung ketangkep di chapter 1
mungkin kalau chapter 2 atau 3 dia mengalami kesulitan sih, masih terdengar oke2 saja, tapi di chapter 1 sudah gagal itu rasanya gimana ya…
tapi ya cobalah kita lihat chapter 2. semoga berkembangnya ke arah yang lebih baik. karena judulnya ini masih bisa diperbaiki kalo mau

Kaptain: Dosa komik ini: Telling instead of Showing.
Di hype sebagai mailing legendaris tapi ketangkep perangkat kacangan di chapter awal.
Jadi Verdict?

Bambang: Verdict: “Why Do You Need Mask?/10″

Kaptain: “Go read Lies of Locke Lamora and play the Thief series, The original, not the Square Enix one/10″

Bambang: Hahahahahahahah
kayanya berat bener buat pengarangnya kalo harus seperti itu

Kaptain: “Kalau karya diatas terlalu hipster watch Ocean 11 or play Payday/10″

Kalasandhi By Azisa Noor


Bambang: Akhirnya

Kaptain: Batavia diteror vampir, the one that suck, not the god of fitness one like Dedy Corbuizer;
Dan seorang mahasiswi STOVIA terlibat di kasus ini.
This is totally my jam.

Bambang: cerita setting historis, meskipun ceritanya fantasi, ditambah sejarah yang berusaha seakurat mungkin dengan masa lalu. terlebih ini sejarah Indonesia.

Kaptain: Timeline cerita di tahun 1914. Singkatnya golongan intelektual Indonesia yang ndak bermental Inlander mulai ribut.

Bambang: Dan kemungkinan di komiknya bisa sekaligus melihat sejarah pergerakan pemuda menelurkan Indonesia
kalau bisa diteruskan, dikembangkan, dan dieksekusi dengan baik, setiap sel darah merah ini berteriak kegirangan.

Kaptain: Dan sang penulis sudah cukup melakukan riset untuk era ini.
Author note aja njelasin lebih lanjut settingnya.

Bambang: Rasanya seperti ngebaca manga Emma: A Victorian Romance. tapi versi kebangkitan pemuda Indonesia + vampir
tapi agak menarik juga, gaya gambarnya terkesan ada pengaruh RA Kosasih, jadi lebih mirip ke gaya gambar western-Indonesia ketimbang manga jepang

Kaptain: Untuk atmosfir terbaik secara pribadi komik ini yang megang.
Verdict buat komik ini?

Bambang: Verdict: “This Is How You Do Research/10″

Kaptain: Setting Research lebih tepatnya.
Artstyle distinktif, writing yang berkualitas, cast yang simpatetik, dan penulis yang peduli dengan era dan sejarah settingnya.
“Need More Sun Powered Silat/10″

Bambang: Hahahahahahah,
asal ujung-ujungnya gak cuma hamon aja

Kaptain: “Need More Wayang Inspired Stand
/10″

Bambang: Makin ngaco harapannya.

Overall Verdict

Kaptain: Secara keseluruhan: 4 Karya dengan Penilaian Negatif, 4 Karya dengan Penilaian Netral dan 2 Karya dengan Penilaian Positif.
Cukup bagus untuk majalah komik baru yang menawarkan karya original bangsa.
dan di edisi depan akan ada tambahan dua karya lagi

Overall impression?

Bambang: Secara umum, sudah bagus sebenarnya. karya-karyanya mayoritas sudah sangat bagus untuk standar komik Indonesia, terutama komikus-komikus baru. kontrol kualitas juga termasuk bagus, meskipun ada 4 judul yang masih “sakit” di majalah ini

Kaptain: Weak setup. Itu penyakit utama kebanyakan karya di majalah ini. Kalau sini jadi editor, kebanyakan karya disini bakal dituntut untuk bikin ulang. Begitu sebuah karya mampu berdiri sebagai pilot episode yang bermutu dan nggak sekedar bilang “Episode selanjutnya bakal menarik kok!” baru dilulusin.

Sebagai contoh aja, Kenapa sini mesti nggubris mayat cewek ini? GIVE ME A REASON TO CARE (Nggak, cuma ngasih tahu cita-cita aja nggak cukup dan force of personalitynya sang karakter juga lembek). Google “Phatos”, dengerin ini, dan lihat grafik yang nunjukin struktur klasik dibawah. Setelah build up karakter dan/atau setting udah mantep baru adegan dramatik bakal punya efek.

Kebanyakan karya sayangnya mulai di fase Obi-Wan. Hook pembaca dulu (Check out this badass space samurai in action) penjelasan/eksposisi dan semacemnya (Hello, let me talk about this space warrior monk wizard) belakangan bisa. (Oke secara teknis teks kuning di awal tuh kehitung sebagai eksposisi, tapi storynya langsung cepet masuk ke fase “Meet the Most Badass Villain in the World aslongyouignoretheprequelandsomeEUstuff” )

Sini berharap kualitas secara keseluruhan akan naik setelah komikus & editor mulai terbiasa alur kerja majalah.
Dapet asisten juga bakal membantu banget.

Bambang: SF #1 ini memang terasa ada peralihan dari komikus-komikusnya yang biasa bikin web comic atau berseri, masuk ke media pro mainstream yang berbeda baik selera, pasar, dan mekanismenya
masih terlihat dari beberapa judul dan komikus kecanggungannya antara karya web-comic mereka dengan saat masuk media cetak yang menuntut harus ini dan itu, seperti yang baru dijelaskan di atas

Kaptain: Singkatnya: Majalah ini perlu Editor yang lebih tegas dan mampu memberi quality control yang bermutu. Lebih banyak personil pendukung semacam asisten, peneliti, dan penulis juga bisa membantu.

Bambang: Kalau tidak bisa secara kuantitas staff-nya, ya tinggal kualitasnya saja diperbaiki. apakah diubah ataupun dikembangkan. dan seharusnya bisa kalau melihat dari hasil cetakan edisi pertama yang seperti ini.

Kaptain: Jadi, Komik Favorit njenengan dari majalah ini?

Bambang: OH Blood!, diikuti Kalasandhi dan Jakanova
Ghost Loan, Perennium, dan Inheritage harus puas di bawah mereka untuk saat ini

Kaptain: Dari catetan, ” Pilih antara Oh! Blood atau Kalasandhi, tergantung pilihan mbam”
Oke. Kalasandhi, diikuti Oh! Blood.
Jadi Super duper Final Overall Verdict?

Bambang: Verdict: “We Are (Kinda, Maybe) Totally Legit/10″
also, “Don’t Ever Go With Gramedia/10″

Kaptain: “Much, much, MUCH more better than Re:on/10″

Bambang: Hahahahahahahah. Touche

Kaptain: Dan “Send Us Another Book to Bitch at/10″.
Sesuai dengan tren di majalah ini, penutup harus dengan cliffhanger yang sama sekali nggak ada impactnya akibat kurangnya investasi pembaca dengan setting dan karakternya.

Bambang: Jadi kita nutupnya gimana?

Kaptain: AKU HAMIL!

Bambang: DUN DUN DUUUUUUUUUN!