December 6, 2014 — 823 views

Moe dalam Pendapat Para Pakar

Sebelumnya saya telah menjelaskan bagaimana saya memikirkan moe sebagai perasaan yang subyektif. kali ini saya ingin mengaitkan apa yang telah saya bahas tersebut dengan pendapat dan teori yang dikemukakan oleh sejumlah pakar.

Patrick Galbraith (2014) menjelaskan definisi moe sebagai respons afeksi terhadap karakter fiktif. Definisi ini disimpulkan dari penjelasan para pakar yang telah diwawancarai oleh Galbraith, seperti Ōtsuka Eiji, Morikawa Ka’ichirō, Azuma Hiroki, dll. Lebih lanjut Galbraith menjelaskan bahwa respons tersebut adalah sesuatu yang dirasakan oleh seseorang terhadap karakter, bukan sesuatu yang ada pada karakternya itu sendiri. Respons tersebut hanya dirasakan terhadap karakter fiktif atau representasinya (misalnya figure atau cosplay), tidak terhadap orang sungguhan.

Apa yang menimbulkan perasaan moe? Asumsi populernya adalah moe ditimbulkan oleh ciri-ciri desain karakter atau sifat karakter tertentu, seperti model rambut kuncir dua (twintail) atau tsundere. Higashimura Hikaru menganggap desain dan perilaku karakter yang dibuat imut dan menggemaskan cuma moe untuk pemula. Menurutnya, moe juga bisa dirasakan dari karya-karya sastra Dazai Osamu (seorang novelis Jepang yang hidup tahun 1909-1948) atau dari film serius sutradara Oshii Mamoru (sutradara film Patlabor dan film Ghost in the Shell), dengan menelaah lebih dalam karakterisasi dan konteks cerita serta situasi yang dialami oleh karakter. Sōda Mitsuru mengatakan bahwa desain karakter tertentu bukan jaminan akan menimbulkan reaksi emosional dari audiens. Faktor yang lebih menentukan baginya adalah bagaimana audiens berinteraksi dengan karakter sehingga menimbulkan empati terhadap karakter tersebut. Momoi Halko juga berpendapat bahwa moe bukan sekedar pola desain karakter atau perilaku, dan mengulang-ulang pola seperti itu justru menimbulkan kesan maksa. Berkenaan dengan seringnya moe dikaitkan dengan karakter yang digambarkan berusia muda, profesor Morikawa Ka’ichirō berpendapat moe bisa dirasakan terhadap berbagai macam karakter fiksi, tidak harus yang digambarkan berusia muda.


Kotetsu dari Tiger & Bunny; dan Madarame dari Genshiken. Beberapa karakter cowok yang dianggap moe oleh sebagian orang. (sumber: Crunchyroll, omake Genshiken vol. 6)

Uraian-uraian tersebut saya rasa mendukung argumen saya moe bisa dirasakan tidak hanya terhadap karakter yang penampilannya imut dan menggemaskan, sebagaimana saya contohkan dengan apa yag saya rasakan terhadap karakter Yajima dari Genshiken Nidaime. Moe juga tidak hanya dirasakan terhadap karakter cewek. Kita dapat menemukan beberapa contoh karakter cowok yang dianggap moe oleh penggemarnya. Misalnya Kotetsu dari Tiger & Bunny yang dijuluki oleh penggemar sebagai “oyaji-moe” (om-om moe). Contoh lainnya, Hirano Kōta, mangaka yang membuat seri komik Hellsing, pernah menyatakan bahwa Madarame merupakan karakter paling moe di Genshiken. Dan lebih lanjut, bagi fujoshi sudah merupakan hal yang lazim untuk merasakan moe dari membayangkan hubungan romantis antara karakter cowok (Galbraith, 2009).

Bagi fujoshi, BL itu moe.

Higashimura, Sōda dan Momoi juga membahas bagaimana popularitas moe kemudian mendorong upaya untuk sengaja membuat karakter dengan niat untuk menimbulkan perasaan moe itu di kalangan audiens. Ini yang dianggap oleh Sōda sebagai sisi produksi dan marketing dari moe, atau oleh Higashimura disebut sebagai “moe market.” Pola desain karakter atau ciri perilaku tertentu yang disenangi penggemar digunakan untuk memasarkan beragam produk seperti anime, game, atau merchandise. Seperti yang telah dikatakan oleh Sōda, penggunaan pola desain karakter atau ciri perilaku tertentu tidak menjadi jaminan akan menimbulkan perasaan moe bagi setiap orang. Memang tak dapat dipungkiri sejauh ini penggunaan “moe” dalam pemasaran memang ampuh untuk membuat produk laku. Namun bukan tidak mungkin memasarkan produk dengan “moe” saat nanti tidak akan ngetren lagi. “Moe” sebagai jargon marketing mungkin suatu saat akan mati. Tapi fenomena ketertarikan terhadap karakter fiksi masih bisa terus dialami selama audiens masih bisa membangun keterikatan emosional yang intens dengan karakter.

Jadi, saya dapat menyimpulkan bahwa pendapat dan teori para pakar sesuai dengan hasil renungan terhadap observasi yang telah saya lakukan sebelumnya. Moe adalah sesuatu yang dirasakan oleh seseorang terhadap karakter. Dan karena itu moe merupakan sesuatu yang subyektif karena perasaan yang dialami oleh tiap orang berbeda-beda.

Referensi

Galbraith, Patrick. (2009). “Moe: Exploring Virtual Potential in Post-Millennial Japan,” dalam electronic journal of contemporary japanese studies.

Galbraith, Patrick. (2014). The Moe Manifesto: An Insider’s Look at the Worlds of Manga, Anime, and Gaming. Tuttle Publishing.

In Case You Missed It...