November 24, 2014 — 853 views

Pengalaman Pribadi dalam Memahami Subyektivitas Moe

Beberapa tahun yang lalu, saya sering ikut memberi suara dalam voting di International Saimoe League. (1) Suatu hal dari kontes tersebut yang mengusik perasaan saya adalah keberadaan karakter C.C. dari anime Code Geass sebagai salah satu karakter yang dikompetisikan dalam kontes tersebut. Menurut perasaan saya sendiri, C.C. itu sama sekali bukan tipe karakter yang moe. Kalau dibilang cantik (atau seksi) mungkin iya. Tapi moe? Bagi perasaan saya tidak sesuai. Di sisi lain, kalau melihat jumlah orang yang member suara pada C.C. dalam voting, cukup banyak yang menganggap C.C. itu moe, dan bahkan lebih moe dari karakter lain.

C.C. dari Code Geass. (Sumber: My Anime List)

Dari pengalaman itulah mulai terpikir oleh saya bahwa moe itu adalah suatu hal yang sifatnya subyektif. Apa yang dirasakan moe oleh satu orang, belum tentu dirasakan moe oleh orang lain. Begitu pula sebaliknya, apa yang dirasakan tidak moe oleh satu orang, mungkin saja dirasakan moe oleh orang lain. Dengan begitu, pendapat saya yang menganggap C.C. itu tidak moe tidak salah, karena bagi perasaan saya sendiri memang begitulah adanya. Di sisi lain, orang-orang yang mendukung C.C. dalam kontes Saimoe itu juga tidak salah, karena apa yang mereka rasakan memang begitulah adanya. Hal yang penting adalah bisa memahami bahwa tiap orang memiliki perasaannya masing-masing terhadap sesuatu. Kita tidak bisa memaksakan perasaan hati orang lain agar sesuai dengan perasaan hati kita sendiri, dan kita tidak perlu memaksakan perasaan hati kita sendiri dengan perasaan hati orang lain.

Pemahaman bahwa moe bergantung kepada perasaan subyektif masing-masing orang itu yang kemudian membuat saya mempertanyakan anggapan bahwa moe itu adalah suatu style atau genre. Hanya karena ilustrasi suatu karakter mengikuti style tertentu, atau suatu cerita mengikuti genre tertentu, bukan berarti sudah pasti orang akan merasa moe terhadap hal-hal tersebut. Memperlakukan moe sebagai style atau genre mengasumsikan bahwa niat sang kreator yang menentukan apakah suatu karya itu moe atau tidak. Padahal kalau kita telisik lagi sejarah kemunculan penggunaan istilah “moe” itu, karakter-karakter yang awal-awal dianggap moe seperti Ayanami Rei (Evangelion, 1995), Tomoe Hotaru (Sailor Moon, ca. 1994/1995), atau Kinomoto Sakura (Cardcaptor Sakura, 1996/1998); dibuat tidak dengan maksud untuk menjadi “karakter moe,” karena istilah tersebut belum digunakan saat itu. Karakter-karakter tersebut dibuat sesuai dengan keinginan dan keperluan kreatornya masing-masing, baru kemudian di luar dugaan ternyata penggemarnya memiliki “perasaan istimewa” terhadap karakter-karakter tersebut, yang kemudian disebut sebagai “moe.”

Ayanami Rei, Tomoe Hotaru, dan Kinomoto Sakura. Beberapa karakter yang konon pertama kali dianggap moe. (Sumber: Wikipedia)

Tak dapat dipungkiri bahwa di masa sekarang banyak anime atau karakter yang kemudian sengaja dibuat dengan niat untuk menimbulkan perasaan moe itu di kalangan audiensnya. Namun kembali lagi, niat dari kreator bukan penentu utama apakah suatu hal kemudian dirasakan moe atau tidak. Kalau kita lihat kasus Psycho-Pass (2012), sempat beredar komentar dari chief director-nya, Motohiro Katsuyuki, bahwa dia ingin melawan tren anime kontemporer dengan melarang kata “moe” disebut dalam proses produksi. (2) Reaksi yang muncul kemudian adalah justru Tsunemori Akane sang tokoh utama dianggap sebagai karakter yang moe oleh penonton.

Yep, sama sekali tidak moe. (Sumber: Goodsmile Company)

Karena sifatnya yang subyektif, tidak ada aturan baku untuk menentukan apakah sesuatu moe atau tidak; sehingga terdapat kemungkinan untuk merasakan moe terhadap hal yang berbeda dari persepsi umum terhadap moe. Ambillah sebagai contoh bagaimana saya menganggap Yajima Mirei itu karakter paling moe di Genshiken Nidaime. Kalau “moe” biasanya diidentikkan dengan gambaran cewek mungil, imut, menggemaskan, dan sebagainya; Yajima adalah cewek kuliahan yang gemuk, otaku yang gagap soal fashion, gambarnya berantakan, rendah diri, dan banyak cemberut. Tapi justru konflik batin yang dilalui oleh karakter Yajima karena sifat-sifatnya yang canggung sebagai otaku, rasa rendah diri karena kekurangan-kekurangan dirinya, dan kesulitannya menyikapi perasaannya yang semakin berkembang pada Hato; yang menjadikan Yajimacchi menarik hati. Seperti ada perasaan ingin memeluknya dan bilang, “tak usah galau, nyamanlah menjadi dirimu sendiri.” Dalam penertian tertentu, Yajimacchi justru sangat menggemaskan

Kalau anda berpendapat berbeda dan menganggap Yajima tidak moe, itu wajar saja. Tapi bagi perasaan saya sendiri Yajimacchi itu so moe I could die~♥ (Sumber: Ogiue Maniax)

Moe juga tidak harus dialami hanya dengan karakter yang ditampilkan melalui ilustrasi, atau hanya dengan karakter dari komik/animasi/game Jepang. Misalnya ketika saya membaca novel Soul Music karangan Terry Pratchett, karakter Susan Sto Helit di novel tersebut bagi saya terasa moe. Novel itu tidak memiliki ilustrasi (selain ilustrasi gitar tengkorak di sampulnya), sehingga tidak ada gambaran baku mengenai penampilan karakter tersebut saat saya membacanya; dan pengarangnya adalah orang berkebangsaan Inggris yang saya rasa tidak tahu apa-apa soal moe. Namun, kecanggungan yang ditunjukkan Susan dalam menggantikan kakek angkatnya menjalankan tugas menjemput nyawa makhluk-makhluk hidup yang mati; sudah cukup membuatnya terasa moe walaupun hanya dideskripsikan dengan tulisan.

Subyektivitas moe adalah hal yang telah mulai saya pikirkan sejak sekitar tiga tahun yang lalu. Sejak saat itu, saya sudah membaca berbagai pendapat menarik mengenai diskursus pemaknaan moe, dari artikel-artikel blog sampai buku. Di lain kesempatan, saya ingin membahas beberapa perspektif mengenai konsep moe dalam buku The Moe Manifesto dan bagaimana kaitannya dengan hal-hal yang sudah saya bahas.

Catatan Tambahan

(1) Selama 2/3 periode terakhir saya sudah tidak lagi mengikuti voting. Banyaknya karakter baru dari anime-anime yang tidak saya tonton membuat saya bingung (jumlah anime yang saya tonton per tahun sejak 2012 relatif sedikit, dan sebagiannya bukan judul yang begitu populer).

(2) “Psycho-Pass Chief Director: Word ‘Moe’ Is Banned Among Staff”

In Case You Missed It...