November 15, 2014 — 1089 views

Meninjau Kembali Topik Pengertian Otaku

Berkaitan dengan tulisan pertama saya yang berjudul Mengenai Penggunaan Istilah “Otaku”, seorang kōhai saya penasaran dan bertanya lebih lanjut mengenai bagaimana cara dan siapa yang menentukan apakah seseorang itu otaku atau bukan.

Bagaimana menentukan apakah seseorang itu otaku? Pertanyaan yang sulit dijawab, tapi karena itulah menjadi penting untuk direnungkan kembali secara kritis.

Dalam wawancaranya dengan Galbraith yang dimuat di The Moe Manifesto, Ōtsuka Eiji mengatakan otaku adalah orang memiliki value judgement-nya sendiri. Mereka menyukai sesuatu bukan karena mengikuti orang lain, bukan karena mengikuti tren, bukan karena ingin dianggap orang lain keren. They just like it. Kalau apa yang mereka sukai tidak ada, mereka buat sendiri (think of doujinshi, garage kit, itasha, dsb.).

Sementara dalam pengantar Otaku Spaces, satu benang merah yang bisa kita temukan dalam teori Ōtsuka dan Okada Toshio mengenai ciri otaku adalah memiliki apa yang kusebut “intense obsession in production and reproduction of information and knowledge about their subject(s) of interest.” Otaku suka mengumpulkan, mengolah, dan menyebarkan informasi mengenai topik yang mereka gemari. Di luar penggemar anime dan manga misalnya, kita bisa melihat otaku kereta gemar menghapalkan spesifikasi kereta, spesifikasi rel, dsb.

Otaku kereta: tahu beragam hal soal kereta. (Sumber: Popular Mechanics)

Profesor Ito Kimio, Kotani Mari, Momoi Halko, dan beberapa orang lainnya yang diwawancarai Galbraith dalam The Moe Manifesto melihat otaku dari perspektif jender. Mereka melihat penempatan posisi otaku laki-laki dimarjinalisasikan dalam tatanan masyarakat Jepang modern, karena otaku laki-laki itu menolak norma maskulin yang mainstream dalam masyarakat Jepang modern, yaitu menjadi salaryman. Daripada commit dengan kehidupan salaryman yang membosankan, otaku laki-laki memilih untuk terus bermain-main dengan hal yang mereka sukai. Ini dianggap sebagai masalah oleh tatanan produksi ekonomi dan sosial yang dominan dalam masyarakat Jepang modern.

Ah, jadi melebar ke mana-mana. Mengenai penggunaan otaku sebagai label, sebagaimana yang sudah dijelaskan, Nakamori Akio sebagai orang pertama yang melakukan hal tersebut menggunakan istilah “otaku” untuk menyebut orang-orang yang tidak dia sukai. Dan itu masih berlangsung sampai sekarang kalau kamu lihat pembicaraan di internet yang menyebutkan anime-anime tertentu sebagai “otaku pandering,” seolah-olah semua otaku seleranya sama dan sudah pasti akan menyukai anime itu. Sebenarnya, hal itu lebih seperti mengatakan, “anime seperti ini tidak sesuai dengan selera saya, dan saya tidak suka dengan orang-orang yang seleranya menyukai hal-hal seperti ini,” bukan?

Anyway, Miyazaki Tsutomu adalah seseorang yang dilabeli oleh media dan masyarakat sebagai otaku. Di sisi lain, ada juga orang-orang dari buku Otaku Spaces seperti Yanai Jun, Ishizaki Yushin, atau Aki yang mengakui sendiri sebagai otaku. Kalau menurut Madarame Harunobu di komik Genshiken, menjadi otaku itu sebenarnya bukan sesuatu yang diputuskan secara sadar oleh yang bersangkutan. One day, at some point, you just realize that you have been hopelessly obsessed with something.

Tapi menurut Tamagomago yang blognya sempat kusebutkan itu, itu pendekatan lama. Dia mengamati akhir-akhir ini banyak orang yang melihat penggambaran otaku di berbagai media (anime, drama, dll.), kemudian merasa tertarik dan dengan sendirinya ingin menjadi otaku (atau mungkin mereka memang sudah menggemari anime atau interest lainnya dari awal, kemudian ketika melihat otaku yang digambarkan dalam media, mereka merasa itulah identitas yang sesuai dengan apa yang mereka gemari. Who knows?).

Jadi otaku kayaknya asyik…?

Bingung? Pada akhirnya, otaku adalah kumpulan beragam kegemaran dan perilaku yang dikaitkan dengannya, yang semuanya diidentifikasikan melalui satu istilah tunggal. Tidak semua orang menggemari hal yang sama, dan beragamnya perbedaan kegemaran itulah yang menjadikan sulit untuk menentukan definisi yang pasti untuk otaku. Kalau aku bilang, tidak ada cara yang paling benar untuk menjadi otaku. Galbraith bilang otaku itu bukan identitas yang statis, tapi suatu proses “menjadi” yang tak pernah berakhir. Maknanya bisa beragam tergantung dari bagaimana interaksi antara seseorang dengan hal yang digemarinya, yang bisa berbeda-beda dari orang ke orang, atau dari waktu ke waktu. Bahkan satu orang pun seleranya bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu, lho. Azuma Hiroki juga mengingatkan bahwa kalau kita memperhatikan sejarah, definisi kata-kata, termasuk kata “otaku” it uterus mengalami perubahan; dan perubahan itu adalah proses yang bersifat sosial dan politis. Karena itulah, jangan terpaku pada persepsi stereotipikal yang sempit. Dengan mengenal keragaman dan proses perkembangan keragaman dalam identitas otaku, kita tidak akan salah kaprah mengira semua otaku itu kegemaran dan perilakunya sama.

Referensi

Patrick W. Galbraith, Otaku Spaces, (Chin Music Press, 2012).

Patrick W. Galbraith, The Moe Manifesto: An Insider’s Look at the Worlds of Manga, Anime, and Gaming, (Tuttle Publishing, 2014).

Terjemahan berbahasa Inggris dari artikel blog Tamagomago bisa dibaca di “The Appearing and Disappearing Wave of Generational Change in the Meaning of “Fun” in Genshiken II Volume 1/Genshiken Volume 10″.

In Case You Missed It...