November 10, 2014 — 1719 views

Kenshin dalam Konteks Sejarah bag. 3: Membaca Sejarah Secara Kritis Melalui Kenshin

Melengkapi bagian pertama dan bagian kedua dari seri “Kenshin dalam Konteks Sejarah,” tulisan kali ini membahas bagaimana seri Kenshin memberikan gambaran kritis mengenai sejarah Periode Meiji dan apa yang bisa dipelajari darinya.

Peserta Diskusi

H: saya sendiri selaku pembicara utama

GA: senior saya yang mengaitkan dengan perkembangan politik luar negeri dan pertahanan Jepang di masa pasca-Perang Dunia

BL: kōhai

H: Rurouni Kenshin memang sebuah kisah fiksi yang mengandung sejumlah unsur yang fantastis. Namun demikian, penggambaran settingnya yang berlangsung di Periode Meiji tetap memiliki landasan dari sejarah aslinya. Kita akan telaah bagaimana penggambaran Periode Meiji dalam seri Kenshin sebenarnya memberi perspektif yang cukup kritis dalam melihat periode tersebut sebagai masa yang penuh gejolak.

Mari kita bahas terlebih dahulu plot dari “Kyoto arc” yang dijadikan film live action ini, di mana Shishio berkomplot untuk menggulingkan pemerintahan Meiji. Salah satu peristiwa yang digambarkan di awal kisah “Kyoto arc” ini adalah pembunuhan Menteri Dalam Negeri Ōkubo Toshimichi. Di dunia nyata, Ōkubo yang merupakan mantan samurai dari Satsuma dibunuh oleh simpatisan Saigō Takamori yang menganggap Ōkubo sebagai pengkhianat karena menggunakan kekuatan militer untuk menumpas faksi Takamori di Satsuma.

Di cerita Kenshin, pembunuhan tersebut sebenarnya dilakukan oleh anak buah Shishio. Dari situ kita bisa mengetahui bahwa kisah “Kyoto arc” ini berlangsung sekitar tahun 1878. Bagaimana kondisi Jepang saat itu? Perang Satsuma baru saja diakhiri setahun sebelumnya, dan sebelum Perang Satsuma pun telah ada beberapa perlawanan bersenjata melawan pemerintahan walaupun lebih kecil. Sementara itu, para aktivis politik sibuk memperdebatkan bentuk pemerintahan dan konstitusi, yang diwarnai oleh tindak-tindak kekerasan oleh pihak-pihak ekstrimis.

Ōkubo Toshimichi versi asli dan versi film Kyoto Inferno. (Sumber: Wikipedia, Anime News Network)

Tak heran kalau Shishio, seorang pendekar dengan sifat dan latar belakang perjuangan yang keji merasa negara Jepang ini tidak tentu arahnya ke mana. Begitu banyak pertentangan kepentingan dan pemerintah Meiji nampaknya seperti tidak cukup kuat untuk mengendalikan semuanya. Shishio memiliki visinya sendiri mengenai identitas nasional yang baru, yang dibangun dengan landasan filosofi hanya pihak yang kuat yang sanggup bertahan di dunia dan apapun harus dilakukan untuk menjadi yang terkuat. Dan dia pun menggunakan intrumen keekrasan untuk menumpas gagasan-gagasan lainnya yang bertentangan dengan visinya.

A: Kalau lu berpikir di dunia yang realis sih sah-sah aja ya. Karena konsep yang dibawa-bawanya survival of the fittest.

H: Tapi kalau mau jujur, kalau memang yang bisa bertahan hidup hanyalah yang kuat, manusia seharusnya nggak bisa bertahan hidup, karena manusia relative lebih lemah dibandingkan hewan-hewan. Justru menurut pendapat Darwin sendiri, karena manusia bekerja sama hidup dalam kelompok mereka bisa survive. Makanya Darwin menolak penerapan teorinya dia dalam kehidupan bermasyarakat. Apa yang popular dikenal dengan istilah “Darwinisme sosial” itu sebenarnya dia tentang. Tapi kenyataannya memang orang yang kuat juga butuh orang yang lemah untuk hidup. Coba apa orang seperti Shishio bisa menanam padi atau masak makanannya sendiri?

Beralih ke dasar karakter Kenshin sendiri, dia adalah salah satu assassin yang dulu bertugas membunuh lawan-lawan gerakan Restorasi. Restorasi Meiji didorong oleh gagasan idealis yang mulia; ingin memperbaharui negeri agar kondisi bangsa menjadi lebih baik. Namun dalam prosesnya ternyata hal tersebut memerlukan pengorbanan darah dan nyawa yang banyak. Dengan rasa penyesalan atas perbuatannya di masa lalu, agar pengorbanan selama peralihan kekuasaan tidak sia-sia, dia berupaya melindungi idealisme gerakan Restorasi dengan melindungi orang-orang yang ditindas tanpa membunuh lawannya lagi.

Kenshin hanyalah karakter rekaan tentu saja. Tapi justru dengan adanya fantasi di mana perlu ada karakter Kenshin yang melindungi idealisme Restorasi itulah, Watsuki (pengarang Kenshin) menggambarkan bagaimana periode itu merupakan masa-masa penuh pertikaian. Aktivis-aktivis politik yang ingin memperbaiki bangsa, ketika terlalu menggebu-gebu dalam memperjuangkan gagasan masing-masing malah terjerumus dalam tindak kekerasan yang mungkin malah menyakiti rakyat yang katanya seharusnya mereka bela. Kondisi seperti itu digambarkan oleh karakter tiga aktivis mabuk di komik Kenshin volume 1. Ekstrimisme yang melupakan tujuan pokok itu juga yang menjadi salah satu poin yang dikritisi oleh Nakae Chōmin dari gerakan-gerakan politik pada masa itu.

Aktivis mabuk pendukung Itagaki Taisuke di komik Kenshin yang berbuat onar.

Salah satu hal menarik lainnya yang diangkat oleh komik Kenshin ini adalah mengenai Sekihōtai. Sanosuke yang menjadi salah satu kawannya Kenshin diceritakan merupakan mantan anggota Sekihōtai. Sekihōtai itu semacam pasukan rakyat yang mendukung dan membantu pihak-pihak anti-Tokugawa. Mereka menjadi pasukan pendahulu dalam peperangan, serta berkeliling menarik dukungan dan simpati masyarakat dengan mengabarkan janji-janji bahwa pemerintahan yang baru nantinya akan menerapkan pengurangan pajak. Tapi pemerintah yang baru tidak sanggup memenuhi janji-janji seperti itu. Pasukan yang mengabarkan janji-janji tersebut dicap sebagai pasukan palsu sehingga bisa dihukum sebagai penyebar kabar bohong yang meresahkan rakyat.

Sekihōtai ini tidak banyak yang mengenalnya, termasuk di Jepang sendiri. Watsuki bahkan pernah disindir sebagai seorang maniak sejarah karena memasukkan cerita tentang Sekihōtai yang tidak banyak diketahui orang ini. Tapi menurutnya penting untuk mengangkat bagaimana jasa dari Sekihōtai dalam mewujudkan Restorasi Meiji itu telah lenyap dari ingatan sejarah masyarakat umum. Suatu kepingan sejarah yang terselip di balik permadani catatan sejarah dan dilupakan oleh orang banyak.

Jadi, berlangsungnya Restorasi dan pembangunan negara selama Periode Meiji ternyata tak seindah yang dicita-citakan. Sebagaimana yang dikatakan Watsuki dalam salah satu catatannya, Periode Meiji itu banyak kebohongan dan tipuan. Melalui karya fiksi Kenshin ini, Watsuki mengungkap kembali gejolak pertikaian selama masa-masa tersebut, suatu kenyataan yang menurut Watsuki, harus dihadapi.

Demikianlah pembahasan mengenai Kenshin dan sejarah Restorasi Meiji ini. Semoga bermanfaat.

Referensi

Watsuki Nobuhiro, Samurai X Vol. 1: Kenshin Himura Si Battosai, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2014)

Watsuki Nobuhiro, Samurai X Vol. 2: Dua Orang Battosai, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2014)

Ōkubo Toshimichi – Wikipedia, the free encyclopedia

In Case You Missed It...