November 8, 2014 — 9607 views

Kenshin dalam Konteks Sejarah bag. 1: Dari Bakumatsu Menuju Restorasi Meiji


Seri komik populer Rurouni Kenshin karya Watsuki Nobuhiro yang diserialisasikan di majalah Shōnen Jump kini telah mendapatkan trilogi adaptasi live action. Kisah tentang pendekar pedang pengembara di zaman Meiji yang berusaha menegakkan keadilan tanpa membunuh lawannya pernah mendapatkan adaptasi animasi di tahun 90-an dan cukup populer di Indonesia karenanya. Kali ini penggemar di Indonesia berkesempatan untuk menonton episode kedua dan ketiga dari seri live action tersebut, yaitu Kyōto Taika-hen (Kyoto Inferno) pada bulan September dan Densetsu no Saigo-hen (The Legend Ends) pada bulan Oktober. Kedua film tersebut mengadaptasi arc paling panjang dan paling populer dari serial Kenshin, yaitu “Kyoto arc.” Dalam cerita kali ini, Kenshin harus menghentikan rencana jahat Shishio Makoto untuk menggulingkan pemerintahan Meiji. Kedua karakter diceritakan merupakan mantan pembunuh dari pihak Kekaisaran ketika Kekaisaran berseteru dengan pihak shogun untuk merebut kekuasaan atas pemerintahan Jepang. Untuk lebih memahami konteks sejarah di mana cerita Kenshin berlangsung, tulisan ini akan merangkum sejarah Jepang dari berakhirnya isolasi di akhir masa pemerintahan shogun hingga bermulanya Periode Meiji.

Periode Bakumatsu: Berakhirnya Isolasi dan Bangkitnya Sentimen Anti-Tokugawa

Selama sekitar 200 tahun, pemerintahan Shogun (bakufu) Tokugawa yang berwenang menjalankan pemerintahan negara Jepang menjalankan politik isolasi (sakoku) untuk mencegah masuknya pengaruh dari bangsa-bangsa asing yang dikhawatirkan dapat menimbulkan ketidakstabilan di dalam negeri (1). Jepang sebenarnya tidak sepenuhnya tertutup dari dunia luar, karena terdapat bangsa-bangsa tertentu yang diizinkan untuk melakukan perdagangan dengan Jepang di pelabuhan-pelabuhan yang sudah ditentukan; misalnya Belanda diizinkan untuk berdagang melalui Nagasaki (2). Dari perdagangan dengan Belanda itu juga, sedikit perkembangan ilmu pengetahuan Barat (rangaku) masuk dan dipelajari oleh kalangan-kalangan tertentu di Jepang.

Selama berlangsungnya isolasi, terdapat beberapa upaya dari bangsa-bangsa asing untuk membuka Jepang bagi perdagangan dengan bangsa-bangsa lain. Namun baru melalui dua kunjungan pada tahun 1853 dan 1854 (3), Komodor Matthew Perry dari Amerika Serikat berhasil “meyakinkan” pemerintah bakufu untuk membuka hubungan diplomatik dan perdagangan dengan AS, dengan membawa kapal-kapal perang bertenaga uap dan memamerkan kemampuan senjata meriam kapal-kapal tersebut di Teluk Edo (pusat pemerintahan bakufu Tokugawa). Setelah itu, Jepang akhirnya terlibat juga dalam perjanjian-perjanjian tidak setara dengan negara-negara Barat lainnya. (4)

Lemahnya posisi Jepang dalam perjanjian-perjanjian dengan bangsa-bangsa Barat itu menimbulkan rasa tidak puas terhadap bakufu Tokugawa. Pada 1863, Kaisar Kōmei bahkan secara terbuka berusaha ikut campur dalam urusan pemerintahan dengan mengeluarkan maklumat untuk mengusir orang asing (jōi chokumei). Klan-klan saingan Tokugawa dari wilayah-wilayah Satsuma, Chōshū dan Tosa mulai membangun kekuatan tempur, melakukan serangan-serangan terhadap orang asing dan pendukung Tokugawa, serta berkumpul di sekitar Kaisar dengan harapan dapat menggulingkan Tokugawa untuk membentuk pemerintahan baru. Klan-klan tersebut dipinggirkan dari pusat kekuasaan selama masa pemerintahan bakufu Tokugawa karena tidak bersekutu dengan klan Tokugawa dalam Pertempuran Sekigahara di tahun 1600.

Pertempuran Toba-Fushimi

Shogun Iemochi meninggal pada tahun 1866 dan Kaisar Kōmei meninggal pada 1867. Masing-masing digantikan oleh Shogun Tokugawa Yoshinobu, dan oleh Mutsuhito (Kaisar Meiji) yang baru berumur 14 tahun. Yoshinobu sebenarnya telah bersedia menyerahkan kembali wewenang pemerintahan kepada Kaisar. Namun kalangan Satsuma dan Chōshū tidak senang dengan hal tersebut karena khawatir jika peralihan kekuasaan diselesaikan secara damai, orang-orang dari klan Tokugawa tetap akan mengisi posisi penting di pemerintahan baru. Maka mereka terus memanas-manasi konflik dengan klan Tokugawa. Gerah dengan ulah provokatif tersebut, Yoshinobu menyiapkan pasukan di Ōsaka untuk “membebaskan” Kaisar dari jerat pengaruh orang-orang Satsuma dan Chōshū. Pihak Tokugawa dan aliansi Satsuma-Chōshū (Satcho) sama-sama memperebutkan legitimasi sebagai wakil yang sah dari kehendak Kaisar.

Perlu diperhatikan juga keberadaan dan peran negara-negara Barat dalam kondisi bersitegang tersebut. Pihak bakufu telah memperoleh persenjataan dan pelatihan militer dari Prancis. Sementara Chōshū dan Satsuma memperoleh bantuan militer dari Inggris.

Kiri: Shogun Tokugawa Yoshinobu; dan kanan: Kaisar Meiji muda. (Sumber: Wikipedia)

Yoshinobu mulai menggerakkan pasukan di Ōsaka ke arah Kyoto melalui Jalan Toba dan Jalan Fushimi untuk menyampaikan surat kepada Kaisar. Pergerakan pasukan dihadang oleh pasukan aliansi Satcho. Setelah pihak aliansi melepaskan tembakan pertama, maka pada tanggal 27 Januari 1868 pertempuran bersenjata pun pecah.

Selagi pertempuran berlangsung di Toba dan Fushimi, Kaisar menyetujui penggunaan kekuatan militer oleh aliansi Satcho untuk melawan Tokugawa. Pangeran Yoshiaki ditunjuk sebagai panglima tertinggi dan pataka/panji berlambang Kaisar dibawa ke medan pertempuran oleh pihak aliansi Satcho. Dengan penempatan anggota keluarga Kaisar dalam struktur komando militernya serta membawa pataka Kaisar, berarti pasukan aliansi dianggap merupakan pasukan Kaisar yang sah, dan menyerang pasukan Kaisar dapat dianggap sebagai suatu pengkhianatan terhadap Kaisar. Hal tersebut menjadi pukulan terhadap semangat juang pasukan Tokugawa. Beberapa klan yang memihak Tokugawa juga mengalihkan dukungan kepada pihak Kaisar.

Panji berlambang Kaisar. (Sumber: Wikipedia)

Dengan persenjataan modern yang lebih lengkap dan dukungan moral legitimasi sebagai pasukan Kaisar, pasukan aliansi yang jumlahnya lebih sedikit 1:3 dibandingkan pasukan Tokugawa berhasil memukul mundur pasukan Tokugawa. Yoshinobu memilih untuk meninggalkan Benteng Ōsaka dan kembali ke Edo secara diam-diam menggunakan kapal. Pasukan Kekaisaran terus bergerak ke Ōsaka dan berhasil merebut Benteng Ōsaka tanpa perlawanan.

Dalam Rurouni Kenshin, Kenshin dan Shishio diceritakan sama-sama merupakan pembunuh dari pihak Chōshū yang berperan membunuh lawan-lawan aliansi Satcho di pihak Tokugawa. Dalam film live action, keduanya juga ikut bertarung dalam Pertempuran Toba-Fushimi. Kenshin terdorong oleh idealisme untuk membangun negara yang lebih baik dengan membantu lahirnya pemerintahan baru, sementara Shishio adalah seorang sosiopat yang keji. Kenshin yang menyesal harus membunuh banyak orang untuk mewujudkan negara yang lebih baik, memutuskan untuk berhenti dari jalan sebagai seorang pembunuh setelah berakhirnya Pertempuran Toba-Fushimi. Sementara Shishio karena kekejamannya dikhawatirkan akan mencoreng reputasi dan menjadi ancaman bagi pemerintahan yang baru, sehingga pemimpin-pemimpin aliansi berusaha membunuhnya, walaupun Shishio akhirnya lolos dari maut. Kemunculan pataka Kaisar dalam Pertempuran Toba-Fushimi juga digambarkan dalam film Kyoto Inferno dalam flashback yang menunjukkan aksi Shishio di Toba-Fushimi.

Perang Boshin

Setelah meletusnya pertempuran di Toba-Fushimi, perang terus berlanjut antara pasukan Kekaisaran dengan pasukan Tokugawa. Negara-negara Barat sempat bimbang mengenai pihak mana yang harus diakui sebagai pemerintah Jepang yang sah, tapi akhirnya sepakat untuk bersikap netral dan tidak memberi bantuan pada pihak manapun hingga perang usai. Pada kenyataannya penasihat-penasihat militer dari Prancis tetap membantu pihak Tokugawa walaupun tidak secara resmi mewakili pemerintah Prancis. Pada bulan Mei 1868, pasukan Kekaisaran mengepung Edo dan pihak Tokugawa memilih untuk menyerah.

Namun, panglima angkatan laut Tokugawa, Enomoto Takeaki menolak untuk menyerah dan membawa kapal-kapal tempur Tokugawa yang tersisa ke utara pulau Honshū. Pasukan pendukung Tokugawa di utara Honshū akhirnya juga mengalami kekalahan sehingga Enomoto lari ke Ezo (sekarang Hokkaidō) dan memproklamirkan kemerdekaan pulau tersebut sebagai Republik Ezo. Upaya perlawanan Enomoto terhadap pemerintahan Kekaisaran yang semakin kuat berakhir dengan kegagalan dan Enomoto akhirnya menyerah pada bulan Mei 1869.

Awal Sebuah Era Baru

Walau Enomoto masih melakukan perlawanan hingga 1869, Setelah Edo direbut dari pendukung Tokugawa, pemerintahan Jepang telah dikuasai oleh pihak Kekaisaran. Kaisar menandai bermulanya era baru dalam sejarah Jepang dengan memberinya nama Meiji (pemerintahan terang). pada akhir tahun 1868 Kaisar Meiji dipindahkan dari ibukota asalnya Kyōto ke Edo yang diganti namanya menjadi Tōkyō (ibu kota timur). Pemerintahan yang baru menjalankan konsolidasi kekuasaan dan mendorong modernisasi negara melalui perubahan dalam tata kelola negara dan berbagai bidang kehidupan bermasyarakat agar Jepang tidak lagi lemah dalam menghadapi hubungan dengan bangsa-bangsa asing. Pemerintahan baru ini banyak diisi oleh pimpinan-pimpinan dari aliansi Satcho, serta orang-orang dari pihak Tokugawa yang menerima ampunan untuk memperkuat konsolidasi dan reputasi pemerintahan baru (Enomoto misalnya, di kemudian hari menjadi duta ke Rusia dan Cina Tiongkok) (5).

Ilustrasi pemindahan Kaisar ke Edo. (Sumber: Wikipedia)

Perubahan-perubahan di bidang tata pemerintahan, militer, dan ekonomi sejak dimulainya Periode Meiji, serta pengaruhnya pada identitas kebangsaan Jepang akan dibahas di bagian berikutnya.

Catatan tambahan:

(1) Isolasi dilakukan setelah terjadinya pemberontakan di Shimabara pimpinan Amakusa Shirō pada tahun 1637-1638 melawan perlakuan sewenang-wenang penguasa Shimabara. Karena banyak pelaku pemberontakan merupakan petani yang menganut agama Katolik, pengaruh ajaran Kristen yang dibawa oleh orang-orang Eropa dianggap menghasut para petani untuk melakukan pemberontakan. Penguasa Shimabara akhirnya dipenggal di Edo karena terbukti telah berlaku sewenang-wenang.

(2) Jepang juga mengenal kentang dari perdagangan dengan Belanda (kentang aslinya berasal dari benua Amerika dan diperkenalkan ke luar Amerika oleh penjelajah Eropa). Karena Belanda berdagang di Asia dari Batavia, dalam bahasa Jepang kentang disebut sebagai jagaimo atau “ubi Jagatara (Jakarta).” Di sisi lain, lukisan ukiyo-e yang dibawa pedagang Belanda dari Jepang menjadi populer di kalangan seniman Eropa karena gayanya yang khas dan memicu aliran seni Japonisme. Vincent van Gogh adalah salah satu seniman Eropa yang terpengaruh oleh lukisan ukiyo-e. (Gak ada hubungannya sama film)

(3) Perry datang dengan empat kapal pada tahun 1853 untuk membawa surat dari presiden AS yang meminta Jepang membuka hubungan diplomatik dan perdagangan dengan AS, serta berjanji akan kembali untuk menerima jawaban dari Jepang. Perry kembali tahun 1854 dan menyepakati “Perjanjian Damai dan Persahabatan” dengan perwakilan shogun di Kanagawa.

(4) Di dekade setelah AS membuka isolasi Jepang, AS justru tidak banyak terlibat dengan Jepang karena mengalami Perang Saudara.

(5) Yoshinobu sendiri dibiarkan pensiun dengan damai, dan di kemudian hari mendapat gelar bangsawan dari Kaisar Meiji. Keturunan Tokugawa masih bertahan sampai sekarang dan memiliki yayasan untuk memelihara peninggalan sejarah yang diwariskan turun temurun dalam Klan Tokugawa.

Referensi

Sakoku – Wikipedia, the free encyclopedia

Meiji Restoration – Wikipedia, the free encyclopedia

Battle of Toba-Fushimi – Wikipedia, the free encyclopedia

Boshin War – Wikipedia, the free encyclopedia

dll.

In Case You Missed It...