November 5, 2014 — 3107 views

Mengapa Otaku dilihat jelek oleh orang-orang awam?

Sebagai penggemar Pop Culture Jepang, tidak jarang saya dipertanyakan oleh teman-teman tentang hobi saya ini. Setiap saya memilih lagu-lagu jepang di mobil dari hp saya, sering sekali saya dapat komentar “kok lo suka lagu-lagu gini?” atau “lo suka nonton anime/baca manga gitu?” dan lain lain. Saya biasa menerima pertanyaan-pertanyaan in dengan muka heran dari teman-teman. Yang saya pikirkan adalah “apakah aneh kalo gue suka jepang-jepangan?”. Karena persepsi itulah saya sempat tidak mengikuti aliran aliran jepang yang sebenarnya saya sangat suka. Karena saya takut orang orang akan melihat saya aneh jika mereka tahu saya suka dengan budaya yang menurut mereka aneh ini. Tetapi, seiring waktu berjalan, saya jadi berpikir apa yang membuat budaya pop Jepang terlihat aneh di mata teman-teman saya? yang terlintas di kepala saya pertama kali adalah “oh mungkin orang akan terlihat seperti geek kalo suka baca komik sama nonton kartun”. Tetapi tidak juga, yang baca komik dari Marvel ataupun DC tidak mereka pikir adalah aneh, malah bisa dibilang keren. Jadi saya mencari jawabannya.
Saya sudah suka budaya pop Jepang sedari dulu, semenjak saya duduk di SD. Semenjak beranjak dewasa, saya men-stop hobi saya ini karena dapat komentar-komentar jelek tentang hobi saya sepert “udah umur segini masih suka baca komik/nonton kartun”. Karena tidak suka dapat persepsi seperti itu, saya menutupi hobi saya di depan umum. Walau begitu, saya masih tetap suka dan tidak bisa lepas dari kegemaran saya ini. Selain karena takut reputasi jelek, ditambah saya tidak punya teman untuk ngobrol soal budaya jepang.
Dari dulu saya nonton anime-anime yang ditanyangkan di televisi, baca komik yang terbit di Gramedia, dan mendengar lagu-lagu jepang seperti L’arc en Ciel, Gackt, Miyavi, Utada Hikaru, Ayumi Hamasaki dan lain lain. Serta main game-game jepang. Tetapi semenjak SMA karena menutupi hobi saya ini, saya jadi berhenti melakukan itu semua, walau masih ada beberapa anime dan komik yang saya ikuti seperti Fairy Tail.
Pada saat kuliah, sedikit-sedikit saya bisa membuka tentang hobi saya ini karena saya menemukan beberapa teman saya yang bisa diajak ngobrol tentang budaya ini. Walau begitu, saya tidak terlepas dari pertanyaan-pertanyaan seperti di atas. Saya mulai berpikir kembali kenapa orang-orang mempunyai perspektif bahwa menyukai budaya pop jepang itu aneh? Saya sudah dewasa dan berpikir mungkin orang-orang dapat menerima hobi saya yang menurut mereka aneh.
Mulanya saya berpikir bahwa mungkin mereka berpendapat bahwa penyuka komik jepang tidak akan jauh jauh dari membaca komik hentai, dan nonton anime hentai. Itu memang aneh, dan saya terima saja. Tetapi kan banyak juga anime anime yang tidak seperti itu. Memang banyak sekali anime-anime yang memberi fan service seperti adegan menjurus dan baju baju yang minim serta proporsi tubuh perempuan di komik dan anime yang tidak realistis. Mereka mungkin berpikir bahwa penyuka komik adalah orang-orang aneh seperti itu. Setiap saya nonton anime saya dan ada teman melihat, tidak jarang saya mendapat pertanyaan “ini bokep/hentai?” saya sangat tidak suka mendengarnya. Saya tahu bahwa tidak semua orang begitu, tetapi nyatanya banyak saya mendengarnya.
Apa yang membuat orang-orang berperspektif seperti itu terhadap otaku? Jujur saja saya menyukai anime-anime yang mempunyai banyak karakter perempuan, tetapi tetap saya tidak suka mendengar komentar-komentar orang yang seperti itu. Bagaimana caranya untuk merubah pemikiran orang-orang seperti itu?

In Case You Missed It...