November 1, 2014 — 929 views

Mengenai Penggunaan Istilah “Otaku”

はじめまして。Perkenankan saya memperkenalkan diri dengan nama pena Asagiri Hajime. Saya seorang otaku yang lahir tahun 1991 dan belum lama ini baru menyelesaikan studi formal selama empat setengah tahun dalam bidang ilmu sosial dan ilmu politik. Minat saya dalam hiburan terutama lebih ke komik dan animasi.
Sebagaimana kebanyakan orang yang masa kanak-kanaknya berlangsung di era 90-an, saya sudah mengenal animasi Jepang sejak kecil melalui tontonan-tontonan seperti Doraemon, Dragon Ball, Sailor Moon, Samurai X, Cardcaptor Sakura, Digimon, dan lain-lain. Namun sebenarnya saya pernah kehilangan minat pada animasi Jepang sekitar pertengahan 2000-an. Baru ketika saya tidak sengaja menonton Kino’s Journey di tahun 2008, saya menjadi tertarik kembali kepada animasi dan komik Jepang karena mulai mengenali adanya keragaman genre yang tersedia. Saya tidak membatasi diri pada satu genre tertentu. Saya bisa menyukai berbagai hal, namun bukan berarti saya bisa menyukai semuanya.
Dalam kesempatan kali ini, saya ingin membahas kajian mengenai istilah “otaku,” dan mengapa saya sendiri menganggap diri saya otaku. Selamat menyimak.

Bagaimana “otaku” menjadi istilah yang merujuk pada orang-orang yang terobsesi terhadap animasi, komik, games, dan minat-minat lainnya di Jepang? Seorang otaku Amerika sekaligus peneliti budaya otaku bernama Patrick Galbraith (PhD) telah melakukan penelitian mendalam terhadap asal-usul dan perkembangan penggunaan istilah tersebut. Esai ini merangkum poin-poin penting dari sejarah tersebut berdasarkan penjelasan-penjelasan Galbraith, baik dari tulisannya, maupun dari wawancara yang dilakukannya. Ditambah dengan sedikit sumber lain dan pendapat pribadi saya.

Otaku” (rumahmu) adalah suatu kata ganti orang kedua yang sopan. Kata ini mulai digunakan oleh kalangan penggemar dan penulis kisah fiksi ilmiah (science fiction/SF) di Jepang sekitar periode 1970-an untuk saling memanggil satu sama lain. Mantan editor-in-chief dari majalah Manga Burikko, Ōtsuka Eiji, menjelaskan bahwa para penggemar merasa lebih sreg menggunakan kata tersebut untuk memanggil orang tak dikenal yang memiliki minat yang sama, dibandingkan memanggil dengan kata yang lebih mesra seperti “anata” atau “kimi,” atau kata-kata yang lebih maskulin atau kasar seperti “omae.” (1)

Satu momen yang berpengaruh dalam perkembangan penggunaan “otaku” sebagai label terjadi pada 1983, ketika majalah Manga Burikko menerbitkan serangkaian artikel yang ditulis oleh Nakamori Akio. Menurut Ōtsuka, Nakamori adalah seorang shinjinrui, atau golongan orang yang bisa dianggap sebagai “hipster” di Jepang masa 1980-an; keren, trendi, dan punya pacar. Nakamori menganggap orang-orang yang terobsesi dengan animasi, komik, games, dan karakter-karakter fiksi; suka membuat dōjinshi dan berkumpul di Comiket itu “nggak keren,” dan dia menulis di artikelnya bagaimana dia merasa jijik melihat orang-orang itu. Dalam tulisannya, Nakamori menyebut orang-orang tersebut sebagai “otaku,” mungkin karena dia mendengar mereka saling memanggil dengan kata ganti otaku. Jadi, sebagai suatu label, memang dari awal “otaku” memiliki konotasi yang negatif terhadap golongan orang yang dilabeli. (2) (3)

alt
Kiri: Nakamori Akio, hipster Jepang era 80-an(?); dan kanan: Ōtsuka Eiji, mantan editor-in-chief majalah Manga Burikko. (Sumber: OtakuUSA)

Era 80-an juga menjadi penting karena sekitar masa inilah orang-orang yang selama masa mudanya menjadi penggemar anime sudah mulai cukup umur untuk bekerja dalam industri animasi. Super Dimension Fortress Macross adalah salah satu karya dari penggemar anime yang telah bekerja di industri animasi itu. Macross merupakan acara televisi pertama yang menyebutkan istilah “otaku” di layar kaca. (4)

Pada tahun 1989, pandangan negatif terhadap otaku mencapai titik terendahnya seiring dengan maraknya pemberitaan mengenai pembunuhan empat gadis kecil yang dilakukan oleh Miyazaki Tsutomu. Media massa banyak mempublikasikan secara terperinci isi kamar Miyazaki yang penuh manga, majalah, film bergenre slasher, ilustrasi erotis yang menggambarkan gadis-gadis kecil, dan sebagainya. Media juga memberitakan bahwa Miyazaki pernah menghadiri event dōjinshi. Media massa menyebut Miyazaki sebagai seorang otaku karena memiliki minat-minat tersebut, padahal Miyazaki sendiri tidak mengetahui istilah otaku. (5) Minat Miyazaki terhadap manga dan yang lain-lainnya itu diduga sebagai penyebab kelainan seksual Miyazaki dan mendorongnya melakukan pembunuhan. Ini adalah titik paling ekstrim dari persepsi negatif terhadap otaku. Bukan hanya “otaku itu aneh” atau “otaku tidak berguna;” tapi sampai, “otaku itu berbahaya dan dapat mencelakakan orang lain.”

Perlu juga dicatat bahwa sejak kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Miyazaki marak diberitakan, otaku menjadi lebih sering digambarkan sebagai laki-laki. Padahal nyatanya, klub penggemar anime dan pasar dōjinshi di Jepang sejak era 1970-an banyak didominasi oleh perempuan. Hal tersebut menunjukkan bahwa sejak awal penggemar perempuan memainkan peranan penting dalam perkembangan “otaku culture.” (6)

Persepsi negatif terhadap yang berkembang di era 80-an menimbulkan reaksi. Misalnya, pada era 90-an, salah satu pendiri GAINAX yang dijuluki “Otaking,” Okada Toshio, giat menghadirkan pemikiran-pemikirannya mengenai otaku kepada publik melalui tulisan-tulisan dan seminar. Menurutnya penggemar animasi itu memiliki keistimewaan dibandingkan orang awam karena memiliki kepekaan dan wawasan yang khas untuk memahami seluk beluk dunia animasi, yang tidak sembarang orang bisa memahaminya. (7)


Kiri: Miyazaki Tsutomu (tak ada hubungan dengan Miyazaki dari Ghibli); dan kanan: Okada Toshio sang Otaking (setelah diet). (Sumber: Wikipedia, Vertical Inc.)

Belakangan ini, persepsi yang lebih positif terhadap otaku berkembang kembali. Drama televisi popular Densha Otoko menyajikan gambaran seorang otaku canggung namun berbudi baik yang akhirnya meraih kesuksesan dalam hubungan sosial setelah menolong seorang perempuan dari pelecehan seksual di kereta. Sejumlah riset mengenai dampak ekonomi dari konsumsi yang dilakukan otaku telah mendorong pemerintah untuk memanfaatkan “otaku culture” sebagai suatu komoditas unggulan dalam pasar internasional. (8) Seorang blogger Jepang yang dikenal sebagai Tamagomago mengamati bahwa semakin banyak orang yang mengaku sendiri sebagai otaku (bukannya dilabeli oleh orang lain) karena terinspirasi oleh penggambaran otaku di media yang lebih positif atau menarik. (9) Biar bagaimanapun, baik persepsi populer yang bersifat negatif maupun positif sebenarnya sama-sama merupakan stereotip. Galbraith mengingatkan bahwa “otaku” bukanlah identitas yang bersifat statis, namun merupakan suatu proses “menjadi” yang terus mengalami dinamika transformasi. Karena sifatnya yang tidak pasti itulah, pemikiran dan pemahaman mengenai apa yang dimaksud dengan “otaku” perlu disegarkan kembali dengan membuka diskusi mengenai konteks dan keragaman otaku, agar tidak terpaku pada persepsi-persepsi stereotipikal yang sempit.


Atas: Densha Otoko; dan bawah: Genshiken Nidaime; beberapa contoh penggambaran modern otaku dalam media.

Bagaimana dengan di Indonesia? Terkadang aku khawatir apakah beberapa stereotip khas otaku yang buruk lebih banyak disebarkan oleh kalangan penggemar anime dan manga itu sendiri, sekalipun masyarakat awamnya tidak begitu mengenal stereotip-stereotip tersebut. Masyarakat awam mungkin memandang “otaku” tak lebih dengan stereotip umum bahwa baca komik atau nonton TV terlalu banyak bikin orang menjadi malas. Tapi mungkin perlu riset lebih lanjut untuk memahami hal ini.

Saya sendiri menganggap diri saya seorang otaku. Adanya konotasi negatif dalam label otaku memang pernah membuat saya ragu untuk menggunakan label tersebut. Namun sejak mengikuti AFA ID di tahun 2012, saya tidak ragu lagi kalau saya adalah seorang otaku. Mulai dari bela-belain mengantri demi beli figure sampai menangis saat mendengar konser Kalafina; hal-hal tersebut bukan kesenangan yang bisa dirasakan oleh sembarang orang, namun memerlukan adanya passion yang sangat intens terhadap hal-hal tersebut. Selain itu, identifikasi diri sebagai otaku itu juga menjadi kontribusi saya untuk ikut member warna yang beragam kepada diskusi mengenai apa itu otaku, dengan menghadirkan sisi-sisi yang mungkin tidak sama persis dengan stereotip yang populer dibayangkan orang.

Catatan dan referensi:

(1) Berbagai penjelasan berbeda mengenai penggunaan paling awal dari kata otaku di kalangan penggemar SF dituturkan dalam Patrick W. Galbraith, Otaku Spaces, (Chin Music Press, 2012), hlm. 20.

(2) Patrick W. Galbraith, “Interview with Otsuka Eiji: From Shojo Manga to Bishojo Magazines,” dalam The Moe Manifesto: An Insider’s Look at the Worlds of Manga, Anime, and Gaming, (Tuttle Publishing, 2014); Matt Schley, “The Moe Manifesto: Patrick Galbraith Interview (Part Two),”

(3) Menurut Galbraith, Nakamura sendiri punya perspektif berbeda mengenai kontroversi terkait rangkaian artikel yang ditulisnya. Lihat Matt Schley, loc. cit.

(4) Patrick W. Galbraith, Otaku Spaces, hlm. 23.

(5) ibid., hlm. 16, 23. Miyazaki mendapat hukuman mati karena kejahatannya dan menjalani hukuman gantung pada tahun 2008.

(6) ibid., hlm. 24.

(7) ibid., hlm. 22-23, 24.

(8) ibid., hlm. 16-17.

(9) Terjemahan berbahasa Inggris dari artikel blog Tamagomago bisa dibaca di “The Appearing and Disappearing Wave of Generational Change in the Meaning of “Fun” in Genshiken II Volume 1/Genshiken Volume 10″

In Case You Missed It...