October 1, 2014 — 3322 views

[REVIEW] 5 Centimeters Per Second: The Novel

Sepertinya kami berusaha mati-matian untuk saling meninggalkan kenangan karena kami tahu kalau suatu hari kami akan berpisah

Mungkin sudah banyak yang tak asing dengan 5 Centimeters per Second (秒速5センチメートル, Byōsoku Go Senchimētoru). Satu Anime layar lebar, dua volume adaptasi manga, dan kini sebuah novel yang akhirnya mendapat terjemahan berbahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Katalisku (Tim Eaststar Adhi Citra). Dan tak asing ditemukan dalam karya Sutradara Makoto Shinkai ini, kisah rasa pahit yang menyembunyikan manisnya penerimaan dalam kehilangan menjadi impresi yang lazim ditemukan baik dari yang menonton maupun yang membaca manga.

Setiap adaptasi sama-sama membagi kisahnya dalam tiga bagian. Bagaimana sang lelaki bertemu dengan pujaan hatinya, bagaimana seorang gadis lugu bertemu dengan pujaan hatinya, dan bagaimana sang lelaki mencoba untuk bertahan dari pedihnya kehilangan pujaan hatinya. Namun disini saja letak persamaannya, karena nuansa yang dibawakan masing – masing adaptasi memiliki keunikannya tersendiri.

Walaupun kami sama-sama menatap langit, kami melihat sesuatu yang berbeda. Aku menyadari Tohno-kun tidak pernah melihatku.

Adaptasi layar lebar menggambarkan bagaimana kita melihat setiap karakternya, dan bagaimana kita ikut kehilangan mereka. Adaptasi manga meniti kehidupan dua sejoli yang perlahan terpisah ruang dan waktu ini dari kacamata pribadi – pribadi disekitar mereka. Dimulai dari seorang gadis bernama Kanae Sumida yang jatuh cinta dengan seorang lelaki yang tenggelam dalam kehilangannya, hingga bertahun – tahun kemudian seorang wanita karir bernama Risa Mizuno melihat lebih dekat melalui hubungannya dengan lelaki yang sama sampai pada akhirnya berhujung pada salah satu dari saksi kisah tragis ini ikut tersakiti dan satu lagi menemukan cintanya yang hilang.

Karena fokus kali ini adalah adaptasi novelnya, maka impresi terhadap kisah ini dijabarkan dalam paragrafnya sendiri. Melalui terjemahannya, satu lagi pertanyaan yang tersisa dari drama ini sudah terjawab.

“Bagaimana kalau kita ditempatkan langsung sebagai sang lelaki, seorang pria dengan segala kelelahan batinnya, Takaki Tohno itu sendiri?”

Novel ini seakan menjadi buku diari sanubari Takaki Tohno, atau jika dilebih-lebihkan bisa dianggap perwakilan sanubari Makoto Shinkai sendiri. Kepedihan Takaki akan sosok pujaan hati yang melangkah semakin maju muncul di hampir seluruh isi buku. Tak hanya dalam Takaki dewasa yang sedang merenungkan kenangan masa kecilnya di bagian pertama, bahkan ketika sudut pandang berpindah pada Kanae di bagian kedua dan fokus menjadi lebih luas di bagian akhir kekecewaan Takaki terhadap masa lalunya masih terasa begitu pekat.

Selagi kau hidup, kesedihan terakumulasi di sana-sini.

Hidupnya seakan menjadi barisan domino yang terus menerus jatuh. Tetapi pembaca seakan dibawa terus mengingatkan Takaaki bahwa ia masih punya kesempatan untuk menyelamatkan hidupnya dan hanya tangannya sendiri yang sanggup menghentikan rentetan kehancuran sebelum semuanya jatuh berantakan. Meski bagi penulis artikel yang sudah menonton anime maupun membaca manga-nya tentu tahu kemana kisah ini akan berakhir, membaca novelnya membawa kesegaran tersendiri dimana akhirnya kita bisa ikut melihat, berpikir, dan merenung bersama Takaki Tohno.

Jika kamu adalah Takaki itu sendiri, sanggupkah kamu bertahan sepertinya?

Novel 5 Centimeters Per Second akan dirilis di toko – toko buku pada bulan Oktober ini. Gambar : Katalis Pustaka.

In Case You Missed It...